Siapa yang dibebaskan, atau yang dilepaskan? Mereka yang beriman yang menunaikan kewajiban puasa Ramadan dengan penuh iman dan ihtisab kepada Allah SWT. Mereka yang berpuasa tersebut dibebaskan atau dilepaskan dari apa, dan karena apa? Paling tidak pelepasan dari kehidupan yang penuh beban menuju kehidupan yang penuh dengan rahmat Allah SWT. Pelepasan dari kehidupan penuh dosa menuju kehidupan yang penuh ampunan Allah SWT, dan pelepasan dari kehidupan yang penuh bayangan azab neraka menuju kehidupan yang penuh kebebasan dari azab api neraka.
Pertama, pelepasan dari kehidupan penuh beban menuju kehidupan yang penuh dengan rahmat Allah SWT. Seperti halnya dengan semua ibadah, berpuasa Ramadan juga akan mencapai makna dan tujuan hanya kalau dijalankan dengan penuh iman dan ihtisab. Artinya, kita berpuasa dengan penuh keyakinan bahwa Allah mewajibkan berpuasa semata karena hendak membimbing kita mencapai suatu manfaat yang besar, lahir dan batin, sehingga kita tidak akan memandang kewajiban berpuasa sebagai beban, melainkan sebagai rahmat Allah kepada kita.
Mengapa demikian? Karena Ramadan adalah bulan mulia, bahkan bulan yang paling mulia di sisi Allah SWT. Hari-harinya adalah hai-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam yang paling utama, jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama. Di bulan Ramadan ini napas-napas kita menjadi tasbih. Tidur kita dinilai ibadah. Dan amal serta doa-doa kita diijabah. Inilah bulan ketika kita diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Betapa agungnya kasih sayang Allah kepada kita. Kita masih diberi kesempatan melakukannya.
Kehidupan penuh rahmat itu sulit terlupakan dalam sejarah perjuangan Islam, karena peristiwa bersejarah justru banyak terjadi pada bulan Ramadan. Seperti Alquran untuk pertama kalinya diturunkan. Demikian pula kitab-kitab suci agama samawi, kemenangan dalam perang badar, keberhasilan menguasai Kota Makkah yang terkenal dengan Fathu Makkah, dan sebagainya.
Sepeninggal Rasulullah SAW, kemenangan di Spanyol terjadi di bulan Ramadan. Kemenangan menghadapi perang salib, kemenangan melawan TarTar dan di Indonesia, Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, ternyata juga terjadi di bulan Ramadan. Selama bulan Ramadan, kehidupan penuh rahmat itu akan kian terasa. Misalnya, kehidupan keluarga yang kian harmonis, antara orang tua dan anak-anak sama bertemu dalam konteks kegembiraan dan ibadah. Seperti berbuka, sahur, Tarawih, tadarus Alquran, dan lain-lain. Suasana keakraban tersebut takkan didapatkan pada selain bulan Ramadan.
Suasana seperti itu akan dirasa dan direnungkan makna dan tujuannya manakala puasa kita dilandasi dengan iman. Memang lapar dan dahaga merupakan unsur ibadah puasa. Tetapi, pahala ibadah puasa tidaklah bergantung pada seberapa jauh dan berat perasaan lapar dan dahaga kita. Melainkan bergantung pada seberapa jauh kita menerima dengan tulus tuntunan Ilahi agar kita menahan diri (sementara) dari hal-hal yang menyenangkan dalam hidup ini. Bukti bahwa kadar lapar dan dahaga itu an sich bukanlah ukuran kualitas ibadah puasa adalah bahwa jika kita kebetulan benar-benar lupa sehingga makan dan minum, maka puasa kita tidaklah batal. Bahkan Nabi SAW menyebutkan dengan begitu kita telah diberi makan dan minum oleh Allah SWT. Sebaliknya, meskipun meneguk air setetes yang tidak membuat kita puas, namun kita lakukan dengan sengaja dan sadar, maka puasa kita pun gugur atau batal.
Kedua, pelepasan dari kehidupan penuh dosa menuju kehidupan yang penuh dengan ampunan Allah SWT. Petunjuk Rasulullah SAW bahwa barang siapa menjalani ibadah di bulan Ramadan dengan penuh iman dan ihtisab, maka dosa yang lalu akan diampuni oleh Allah SWT. Ihtisab artinya berhitung atau perhitungan. Yang dimaksud adalah menghitung dengan penuh pengharapan akan pahala dan ampunan yang akan dikaruniakan Allah SWT kepada kita.
Proses perhitungan kepada diri sendiri dalam rangka menuju kehidupan yang penuh dengan ampunan Allah SWT dapat dimulai dengan mengajukan pernyataan jujur dan murni: siapa kita ini sebenarnya? Misalnya, benarkah kita ini “orang baik” seperti kita sendiri merasa? Benarkah kita telah banyak berbuat amal kebajikan sebagaimana kita suka mengaku atau merasa?
Benarkah ibadah kita untuk Allah semata, bukan karena tidak tahan tekanan sosial? Benarkah kita telah melakukan taubatan nashuha? Dan cobalah kita buatkan “daftar” kebaikan kita dibanding keburukan kita secara jujur. Inilah yang dimaksud membuat “perhitungan kepada diri sendiri sebelum perhitungan itu dibuat oleh Allah kepada kita”.
Jelas sekali pekerjaan sedemikian berat, karena umumnya kita dikuasai oleh hawa nafsu (keinginan diri sendiri), dengan perkataan lain. umumnya kita dikuasai oleh subyektivitas kita, vested interest kita. Karena itu kita perlu dengan tulus melakukan ihtisab, melakukan taubatan nashuha dalam rangka meraih pahala dan ampunan yang tak terhingga dari Allah SWT.
Ketiga, pelepasan menuju kehidupan yang bebas dari azab neraka. Kehidupan demikian akan dicapai oleh mereka yang berpuasa dengan penuh iman dan ihtisab selama Ramadan. Artinya, mereka telah berhasil menghalau ranjau-ranjau neraka kehidupan duniawi selama Ramadan sehingga dalam kehidupan akhirat terlepas dari azab neraka. Ibarat berlaga di medan tempur, mereka telah berhasil secara gemilang melakukan jihad akbar, yakni perang yang bila dimenangkan dapat mengendalikan nafsu memperoleh materi tanpa ambisi lawan atau menghancurkan diri sendiri.
Jihad akbar telah disulut apinya bulan Ramadan. Di sinilah mereka yang beriman dituntut untuk berperang mengendalikan nafsunya yang menggebu-gebu. Yang harus disadari bahwa perang ini tidak bertujuan menghabisi potensi lawan, apalagi memusnahkannya, melainkan mengendalikan diri karena betapa pun jeleknya sesuatu, pasti ada segi-segi positif yang dapat dimanfaatkan. Karena itulah di dalam peperangan apa pun, gencatan senjata harus diupayakan, sampai akhirnya lahir perdamaian.
Dalam jihad akbar, perdamaian itu terjadi dan harus dimulai dalam diri individu masing-masing dulu, baru ke luar. Dan, jika ini sudah dicapai oleh banyak orang, maka neraka duniawi seperti konflik antaragama, antarpaham keagamaan, dan lainlain mustahil akan terus berkobar. Bukankah begitu? Wallahua’lam.
*) Penulis adalah Guru Besar Pendidikan Islam UIN KHAS Jember, Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur dan Pengasuh Pesantren Shofa Marwa Jember. Editor : Maulana Ijal