Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

KH Achmad Siddiq

Safitri • Jumat, 30 Juli 2021 - 15:59 WIB
Prof Dr H Abd Halim Soebahar MA
Prof Dr H Abd Halim Soebahar MA
MEMPELAJARI keluarga KH Achmad Siddiq, akan memperolah banyak ‘ibrah (pelajaran berharga). KH Achmad Siddiq nama kecilnya adalah Achmad Muhammad Hasan, lahir di Jember pada hari Ahad Legi, 24 Januari 1926 (10 Rajab 1344), atau tujuh hari sebelum kelahiran Jamiyyah Nahdlatul Ulama, wafat pada hari Rabu, 23 Januari 1991 (7 Rajab 1411) dan dimakamkan di Kediri.

KH Achmad Siddiq adalah putra bungsu dari pasangan KH Muhammad Siddiq bin KH Abdullah dari Lasem dengan isteri keduanya, Nyai Hj Zakiah (Nyai Maryam) binti KH Yusuf dari Rambipuji Jember. Sang Abah (KH Muhammad Shiddiq), lebih popular dengan sebutan Kiai Shiddiq atau Mbah Shiddiq. Kiai Shiddiq berasal dari Lasem, datang ke Jember pada tahun 1800-an, termasuk tokoh penyebar agama Islam awal di Jember dan menjadi perintis berdirinya sekitar 15 masjid di Jember. Kiai Shiddiq adalah pendidik kader-kader kiai penyebar agama Islam, yaitu para putra-putri serta menantunya dan para santrinya, yang kemudian banyak tampil menjadi mubalig atau dai di berbagai kabupaten seperti di Jember, Bondowoso, Banyuwangi, Pasuruan, Madura, Gresik, dan tempat lainnya. Jasa Kiai Shiddiq bersama para kader-kadernyalah yang banyak berupaya menjadikan Jember sebagai daerah berbasis klasik Islam Ahlussunnah Wal Jamaah.

KH Achmad Siddiq memang dilahirkan di Jember, tetapi bukan hanya milik Jember. Beliau sudah menjadi milik Indonesia, demikian halnya dengan saudara-saudaranya. Semua saudara KH Achmad Siddiq kelak menjadi tokoh-tokoh yang sangat disegani dalam dakwah, pengaderan dan pengembangan pendidikan, seperti: (1) KH Manshur Shiddiq, salah seorang putranya adalah KH Ali Mansur, yang dikenal sebagai Pencipta Syi’ir Sholawat Badar yang sangat terkenal tidak hanya di Indonesia. Bahkan sampai di Malaysia dan Brunei Darussalam. Beliau wafat dan dikebumikan di Jember, (2) Nyai Hajjah Roichanah, salah seorang putrinya yang dikenal sebagai Waliyullah KH Abdul Hamid (Pesantren Salafiyah) Pasuruan. Wafat dan dimakamkan di Lasem, Rembang, Jawa Tengah, (3) KH Achmad Qusyairi Shiddiq, yang dikenal banyak mengarang kitab, antara lain adalah Inarotud Duja, Wasilatul Hariyah, dan sebagainya, wafat dan dimakamkan di Pasuruan, (4) KH Machmud Shiddiq, salah seorang putranya adalah KH A Hamid Wijaya (pendiri GP Ansor) dan sekaligus menjadi Ketua GP Ansor yang pertama, wafat dan dimakamkan di di Jember. Putra lainnya adalah KH Shodiq Machmud, Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Jember dan Perintis Pondok Pesantren Al-Jauhar, (5) KH Mahfudz Shiddiq, adalah Ketua Umum PBNU semasa KH Moh. Hasyim Asy’ari yang menjadi pemikir modernis NU dan juga pengarang beberapa buku, seperti: Pedoman Tabligh, Taqlid dan Ijtihad. Wafat dan dimakamkan di Jember, (6) KH Abdul Halim Shiddiq, dikenal sebagai mubalig dan qari pada era tahun 1950-an hingga 1960-an, dan sekaligus pendiri Pondok Pesantren Ash-Shiddiqi Putri Jember. Wafat dan dimakamkan di Jember (7) Nyai Hajah Zainab Shiddiq, pendiri Pondok Pesantren Alawiyah (kini Zainad Shiddiq). Diantara putranya adalah KH Nadhier Muhammad dan KH Yusuf Muhammad. Keduanya dikenal sebagai aktivis, mubalig dan sekaligus politisi sehingga beberapa periode terpilih sebagai anggota DPR RI, (8) Nyai Hajah Zulaicha, istri dari KH Moh. Dhofir Salam adalah perintis berdirinya Pondok Pesantren Al-Fattah. KH Moh Dhofir Salam adalah tokoh dan perintis berdirinya Lembaga-lembaga pendidikan, seperti: SP IAIN (Sekolah Persiapan IAIN), PGAN (Pendidikan Guru Agama Islam) Jember, IAIN Jember, dan Universitas Islam Jember, (9) KH Abdullah Shiddiq, pernah menjadi Ketua PWNU Jatim, wafat dan dimakamkan di Jember, dan (10) KH Achmad Shiddiq.

Seperti telah dikemukakan bahwa semua saudara KH Achmad Siddiq menjadi tokoh-tokoh yang sangat disegani dalam dakwah dan pengembangan Pendidikan. Sekitar satu abad yang lalu, di Talangsari hanya ada satu pesantren, yakni Pondok Pesantren Ash-Shiddiqi di Jalan KH Siddiq Jember, yang dirintis oleh KH Muhammad Shiddiq sejak tahun 1915. Setengah abad yang lalu, Pesantren Talangsari mengalami proses transformasi, sebagai konsekwensi pertumbuhan dan perkembangan generasi KH Muhammad Shiddiq, sehingga banyak pesantren baru yang diasuh dan dirintis oleh putra-putri KH Muhammad Shiddiq yang aktivitasnya berpusat di Jalan KH Shiddiq tersebut, yaitu: Pesantren Ash-Shiddiqi Putra (Jalan KH Shiddiq 201), Pesantren Zainab Shiddiq (Jalan KH Shiddiq 203), Pesantren Al-Fattah (Jalan KH Shiddiq 200), dan Pesantren Ash-Shiddiqi Putri (Jalan KH Shiddiq 82).

Pada tahun 1970-an ketika penulis memulai belajar di Jember, keempat pesantren tersebut sama-sama dibina oleh generasi pertama (dan generasi kedua) KH Muhammad Shiddiq, seperti: Pesantren Ash-Shiddiqi Putra dibina oleh KH Achmad Siddiq, Pesantren Zainab Shiddiq dibina oleh Nyai Hj Zainab Shiddiq, Pesantren Al-Fattah dibina oleh KH Moh Dhofier Salam/suami Nyai Hj. Zulaikho Shiddiq, dan Pesantren Ash-Shiddiqi Putri dibina oleh KH M. Syaiful Rijal dan KH Mahfudz Abdul Chalim (putra KH Abdul Chalim Shiddiq).

Namun pada masa berikutnya, keempat Pesantren Talangsari tersebut telah dibina oleh generasi kedua, atau bahkan ketiga dan keempat. Seperti Pesantren Ash-Shiddiqi Putra dibina oleh KH Muhammad Balya Firjaun Barlaman (Generasi ke-2, putra KH Achmad Siddiq atau Cucu KH Muhammad Shiddiq), Pesantren Zainab Shiddiq dibina oleh KH Ghalban Aunir Rahman, MA (generasi ke-4, cucu Nyai Hj Zainab Shiddiq atau cicit KH Muhammad Shiddiq), Pesantren Al-Fattah dibina oleh KH Arief Rusydi (generasi ke-4, cucu KH Moh. Dhofier Salam/cicit dari KH Muhammad Shiddiq), dan Pesantren Ash-Shiddiqi Putri dibina oleh KH M Saiful Rijal Abdul Chalim Shiddiq (generasi ke-2, putra KH Abdul Chalim Shiddiq atau cucu KH Muhammad Shiddiq).

Selain keempat pesantren tersebut, generasi KH Muhammad Shiddiq (generasi mbah Shiddiq) mengembangkan banyak pesantren, baik di Talangsari, di luar Talangsari, maupun di luar Kabupaten Jember. Yang mengembangkan pesantren di Talangsari antara lain KH Muhammad Farid Wajdi dengan Pesantren Al-Ghafilin Gang Panili, Nyai Hj Asni Furoidah yang mengembangkan Pesantren Tahfidz, dan KH Afthon Ilman Huda (almarhum) dengan Pesantren Tahfidznya. Sementara itu, generasi mbah Shiddiq yang mengembangkan pesantren di luar Talangsari antara lain adalah KH Farouq Muhammad yang merintis Pesantren Riyadhus Sholihin di Jalan Melati (sekarang dibina KH Mushoddiq Fikri), KH Yusuf Muhammad, LML yang merintis Pesantren Darush Sholah di Jalan Mohammad Yamin (sekarang dibina oleh Nyai Hj. Siti Rosyidah), KH Abdul Hamid Hasbullah yang merintis Pesantren Al-Azhar di Gladak Pakem, KH Sodiq Machmud, SH/Prof KH Sahilun A Nasir yang merintis Pesantren Al-Jauhar di Tegalboto Jember, KH Luthfi Abdullah MA yang merintis Pesantren Wahid Hasyim di Balung, dan KH M. Syaiful Rijal yang merintis Pesantren di Maesan Bondowoso.

Kini, semakin banyak pesantren (di Jember dan Luar Jember) yang dirintis keluarga dan santri “Pesantren Talangsari”, sehingga dalam era kekinian “Pesantren Talangsari” akan terus membesar dan mengglobal. Memang, KH Muhammad Siddiq atau KH Achmad Siddiq adalah tokoh Jember, tetapi bukan hanya untuk Jember, melainkan untuk kemaslahatan Islam Indonesia Masa Depan (bersambung).

 

 

*Prof Dr H. Abd. Halim Soebahar MA adalah Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur, Direktur Pascasarjana UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember. Editor : Safitri
#Jember