RADAR JEMBER – Sebuah truk tronton bermuatan minuman teh gelas terguling ke jurang di jalur Gumitir, tepatnya di sekitar makam Habib Ali, Dusun Curahdamar, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Rabu (11/3) sekitar pukul 11.30.
Truk bernopol L 8319 UV itu dikemudikan Akbar Hidayatullah, 25, warga Desa Mentok, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan. Saat kejadian, kendaraan melaju dari arah Jember menuju Banyuwangi.
Insiden bermula ketika truk melintasi jalur menanjak Gumitir. Mesin kendaraan tiba-tiba mengalami gangguan sehingga sopir berusaha mencari tempat aman untuk menepi.
Setelah berjalan sekitar 500 meter, sopir akhirnya menemukan bahu jalan yang dianggap cukup untuk parkir.
Namun saat hendak berhenti, tanah di tepi jalan tidak kuat menahan beban kendaraan yang membawa muatan penuh.
Bahu jalan tersebut ambles hingga truk langsung terguling ke jurang sedalam sekitar lima meter. “Truk penuh muatan teh gelas itu terguling dan masuk ke jurang yang terdapat tanaman kopi milik warga,” kata Kanitlantas Polsek Silo Ipda Ikbal.
Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Sopir selamat meski kendaraan yang dikemudikannya mengalami kecelakaan.
Saat ini proses evakuasi truk masih menunggu penanganan lebih lanjut. Muatan teh gelas harus diturunkan terlebih dahulu sebelum kendaraan dapat diangkat dari dasar jurang.
Gumitir adalah nama kawasan perbukitan yang menjadi batas alami antara Kabupaten Jember dan Banyuwangi, Jawa Timur. Jalur ini dikenal sebagai jalur pegunungan berkelok yang menghubungkan wilayah selatan Jawa Timur bagian timur.
Baca Juga: Update Harga Emas Pegadaian Rabu 11 Maret: Kenaikan Rp45 Ribu Per Gram Bikin Pasar Emas Bergairah
Asal Nama Gumitir
Nama Gumitir diyakini berasal dari kata “kenikir” atau bunga gumitir (marigold) yang dahulu banyak tumbuh di kawasan pegunungan tersebut. Tanaman itu sering dijadikan tanaman pagar atau tumbuh liar di sekitar hutan dan lereng.
Dalam bahasa lokal, bunga itu disebut gumitir, sehingga kawasan perbukitan tersebut kemudian dikenal dengan nama Gunung Gumitir.
Masa Kolonial Belanda
Sejarah jalur Gumitir tidak lepas dari masa kolonial Belanda pada abad ke-19. Saat itu Belanda membuka perkebunan besar di wilayah Jember dan Banyuwangi seperti kopi, karet, dan kakao.
Untuk mengangkut hasil perkebunan menuju pelabuhan di Banyuwangi, Belanda membuka jalur transportasi yang melintasi perbukitan Gumitir.
Pada masa ini juga dibangun:
-
Jalur kereta api Jember – Banyuwangi
-
Terowongan kereta di kawasan Mrawan
-
Jalan penghubung perkebunan di wilayah Silo dan Kalibaru
Jalur tersebut menjadi akses logistik penting bagi perkebunan kolonial.
Baca Juga: BAHAYA! Belok Mendadak Pengendara Scoopy Tertabrak Motor Viar di Ajung Jember, Ini Kronologinya
Perkembangan Setelah Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, jalur Gumitir tetap menjadi penghubung utama antara Jember dan Banyuwangi. Jalan ini kemudian diperbaiki dan diperlebar beberapa kali karena menjadi jalur distribusi barang dan kendaraan antar kabupaten.
Namun karena berada di lereng pegunungan dengan tikungan tajam dan tanjakan panjang, jalur ini terkenal cukup rawan kecelakaan.
Karakter jalur Gumitir antara lain:
-
Banyak tikungan tajam (hairpin)
-
Tanjakan panjang bagi kendaraan berat
-
Sebagian berada di kawasan hutan Perhutani
-
Sering berkabut pada malam dan musim hujan
Jalur Penting Ekonomi Timur Jawa
Hingga sekarang, jalur Gumitir menjadi salah satu jalur vital penghubung ekonomi antara wilayah Jember, Banyuwangi, dan daerah sekitarnya.
Selain kendaraan logistik, jalur ini juga sering dilewati wisatawan yang menuju:
-
Banyuwangi
-
Kawasan wisata Kalibaru
-
Jalur menuju Bali melalui Pelabuhan Ketapang
- Baca Juga: HOT NEWS! Revolusi Inter Milan Dimulai: Dari Vlahovic, Kim Min-jae, Hingga Brandt Masuk Radar Nerazzurri
Namun karena kondisi geografisnya yang berat, pemerintah dan kepolisian sering mengingatkan pengendara, terutama truk dan kendaraan berat, untuk memastikan kendaraan dalam kondisi prima sebelum melintas.
Editor : Dwi Siswanto