JAKARTA, Radar Jember–Influencer sekaligus YouTuber pendidikan, Jerome Polin, tengah menjadi perbincangan hangat setelah mengungkap adanya tawaran endorse dari pemerintah dengan nilai bayaran fantastis.
Ia secara tegas menolak tawaran tersebut dan memilih membongkarnya ke publik melalui unggahan di media sosial.
Dalam unggahan pada akhir Agustus 2025, Jerome memperlihatkan tangkapan layar percakapan dengan sebuah agensi.
Dari pesan itu, ia ditawari Rp10 juta per bulan untuk membuat 90 video positif tentang pemerintah.
Tidak hanya itu, ia juga mengungkap adanya tawaran lain yang lebih besar, yakni Rp150 juta per posting, dengan syarat mempromosikan ajakan damai dari pemerintah, DPR, hingga Brimob tanpa konten negatif.
Jerome menilai tawaran tersebut bermasalah karena menggunakan dana publik untuk kepentingan pencitraan politik
. “Dan duit pajak kita ada yang dipakai buat sewa buzzer. Rela?” tulis Jerome dalam salah satu unggahannya.
Pernyataan itu sontak menuai reaksi dari warganet.
Meski imbalan yang ditawarkan bernilai besar, Jerome dengan tegas menolak.
Ia menyebut integritas dan keberpihakan pada rakyat jauh lebih penting daripada keuntungan materi.
“Kalau untuk kebenaran dan keadilan, aku nggak takut dimusuhin. Aku lebih milih kehilangan teman daripada kehilangan integritas dan hak asasi manusia,” ujarnya.
Keputusan Jerome ini memicu pro dan kontra.
Sebagian warganet memberikan dukungan, menyebut keberaniannya sebagai langkah yang patut diapresiasi.
Namun, tidak sedikit pula yang menuduhnya hanya mencari sensasi dan bersikap sok peduli.
Jerome kemudian menanggapi tudingan tersebut dengan santai.
Ia menegaskan bahwa sikapnya bukan demi popularitas, melainkan bentuk tanggung jawab moral sebagai figur publik.
Ia juga mengingatkan agar agensi dan influencer lain tidak mengeksploitasi rakyat demi keuntungan pribadi.
Kontroversi yang melibatkan Jerome Polin ini membuka kembali perdebatan soal penggunaan dana publik dan keterlibatan influencer dalam komunikasi politik.
Transparansi yang ditunjukkan Jerome menjadi sorotan, sekaligus menimbulkan pertanyaan baru mengenai sejauh mana praktik endorse semacam ini berlangsung di kalangan publik figur Indonesia. (faq)
Penulis:Yunita Setyowati
Editor : M. Ainul Budi