PAKUSARI, Radar Jember – Musibah kebakaran bengkel dan warung terjadi di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Pakusari, Kamis (14/9) pukul 03.30. Dugaan kuat insiden itu terjadi karena kelalaian manusia. Yaitu ada pembakaran sisa tebangan tebu yang kemudian menjalar ke dua bangunan itu hingga ludes.
Penyebab kebakaran ini sejatinya nyaris sama dengan insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang sempat viral. Di TNBTS, kebakaran terjadi karena ulah manajer wedding organizer yang menggunakan flare (alat yang mengeluarkan cahaya dan api) saat momen pemotretan. Sementara, kebakaran bengkel dan warung diduga kuat karena ada orang yang membakar sisa tebangan tebu. Akankah, kasus yang terjadi di Jember ini akan menetapkan tersangka, seperti kasus di TNBTS?
Lahan tempat tebu tersebut merupakan tanah kas desa (TKD) Pakusari yang disewakan ke PT Jaya Makmur. Sementara bengkel pres ban dan vulkanisir adalah milik Jaswadi, 46, warga Jalan Wolter Monginsidi, Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, dan warung nasi milik Didik Suhartono, 53, warga Jalan Sultan Agung, Lingkungan Kopian, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates.
Sumber Jawa Pos Radar Jember menyebutkan, sebelum terjadi kebakaran, lahan tebu yang baru ditebang dibakar pada pukul 20.00, Rabu (13/9). Api mulai membakar daun tebu kering dan menjalar ke arah utara. Api tersebut kemudian menuju arah bengkel dan warung. Malam itu, api sempat dipadamkan agar tidak sampai membakar bangunan di pinggir jalan tersebut.
“Api yang membakar sisa tebangan tebu di belakang warung dan bengkel sempat dipadamkan pemilik warung, Pak Didik. Saat itu dibantu dua orang security PT Tempurejo, Ahmad Hawafi dan Yono. Api sempat padam pukul 22.00. Pukul 23.00 sudah tidak ada lagi api yang membakar daun tebu,” kata sumber tepercaya kepada Radar Jember.
Siapa sangka, meski sempat dipadamkan, sisa api kemudian diduga membakar daun tebu lagi tanpa diketahui. Api kemudian membesar sekitar pukul 03.30, dan membakar bengkel milik Jaswadi serta warung Didik Suhartono.
Pada pukul 03.30, Endang Sukarsih, 53, istri Didik, terbangun untuk persiapan memasak. Korban kemudian mendengar suara ledakan kecil dari bengkel di sebelahnya. Begitu keluar dari warungnya, Endang melihat bengkel milik Jaswadi sudah terbakar. “Api sudah membakar seluruh bengkel, di dalam banyak tumpukan ban,” kata Endang.
Kapolsek Pakusari AKP Hariyanto membenarkan kasus kebakaran hingga mengakibatkan bengkel dan warung terbakar itu. Ini diduga karena lahan tebu yang dibakar. Berdasar keterangan korban, di dalam bengkel itu ada tiga mesin pres ban truk dan kendaraan roda empat, serta barang lainnya.
“Selain mesin pres, tiga mesin kompresor juga ikut terbakar. Tumpukan ban yang sudah selesai diproses dan ban yang persiapan proses juga ikut terbakar. Selanjutnya, api sudah membakar seluruh bengkel dan isinya. Kemudian, merembet ke warung milik Didik Suhartono yang ada di sisi timur,” kata Hariyanto.
Menurutnya, kerugian akibat kebakaran bengkel dan warung ditaksir mencapai Rp 427,5 juta. Sebab, di dalam bengkel itu ada tiga mesin pres berukuran besar dan kecil. Selain itu, masih ada alat lain yang ikut terbakar. Termasuk ratusan ban yang ditumpuk di antara warung dan bengkel. “Mobil damkar didatangkan dari Posko Kalisat untuk melakukan pemadaman dan pendinginan,” jelasnya.
Sementara itu, pagi harinya, pemilik bengkel dan warung sama-sama berada di lokasi. Menurut Jaswadi, bengkelnya buka setiap harinya sekitar pukul 07.00 dan pulang pukul 17.00. “Ada mesin pres ban dan tumpukan ban yang siap proses maupun yang sudah selesai diproses,” katanya. (jum/c2/nur)
Editor : Radar Digital