Radar Jember – Suasana pagi di SMPN 4 Tempurejo pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), kemarin (13/7), cukup tenang.
Tidak ada pemandangan orang tua keluar masuk mengantarkan anaknya, seperti di banyak sekolah. Sebab, sekolah yang berada di kawasan Perkebunan Afdeling Terate, Kebun Kotta Blater, Kecamatan Tempurejo itu hanya ada dua siswa baru.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, dua siswa baru kelas VII yang melangkah masuk ke ruang kelas dengan seragam putih-biru yang masih tampak kaku. Meski jumlahnya sedikit, semangat mereka tak kalah dengan ratusan siswa lain di pusat kota Jember.
Baca Juga: Nama Hilang dari Daftar Bansos? Warga Jember Tak Perlu Panik, Ini Langkah yang Harus Dilakukan
Di sekolah yang berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat kota Jember ini, MPLS bukan soal kemeriahan perayaan. Ini adalah tentang keberlangsungan pendidikan di perdesaan yang ada tengah kawasan perkebunan.
Total populasi siswa di sekolah ini hanya 14 jiwa. Rinciannya, dua siswa di kelas VII, enam di kelas VIII, dan enam sisanya duduk di kelas IX.
"Meski hanya diikuti dua siswa, MPLS tetap kami laksanakan dengan semangat penuh," ujar Wibowo, Kepala SMPN 4 Tempurejo, sembari menatap dua siswanya yang sedang menyimak materi dengan tekun.
Wibowo menjelaskan, sekolahnya memang memiliki ketergantungan erat dengan denyut nadi perkebunan. Siswa-siswi di sini adalah putra-putri dari karyawan perkebunan Afdeling Terate dan Afdeling Jawatan Kebun PTP Nusantara 1 Rayon 5.
Praktis, sekolah ini menjadi tumpuan bagi mereka yang tinggal di rumah dinas perusahaan.
Baca Juga: Warga Jember Jangan Keburu Senang, Nama Penerima Bansos Lama Belum Tentu Muncul Lagi, Ini Alasannya!
"Kondisinya memang unik. Di sini hanya ada sekitar 40 KK. Jika lulusan SDN Curahnongko 8 hanya tiga siswa, maka secara otomatis potensi siswa baru kami juga sangat terbatas. Apalagi kalau orang tua mereka sudah pensiun dan harus meninggalkan perumahan dinas. Jumlah siswa pasti menyusut," terang mantan Kepala SMPN 1 Gumukmas tersebut.
Satu-satunya sumber siswa adalah lulusan SD di sekitar perkebunan. Jika di tingkat bawah (TK) tidak ada anak, maka SDN Curahnongko 8 akan sepi, maka yang ujung-ujungnya berdampak pada minimnya pendaftar di SMPN 4 Tempurejo.
Diketahui, dua siswa baru SMPN 4 Tempurejo tersebut semua lulusan SDN Curahnongko 8. "Kondisi kebun tidak seperti tahun-tahun sebelumnya," tambahnya lirih.
Namun, di balik keterbatasan jumlah dan jarak yang jauh dari pemukiman warga, sekolah ini tak mau tertinggal zaman. Wibowo kini bisa bernapas lega karena listrik PLN dan jaringan Wifi sudah masuk ke sekolahnya.
"Alhamdulillah, sekarang siswa sudah bisa belajar menggunakan komputer dan memanfaatkan ponsel mereka untuk menunjang pelajaran," ucapnya optimistis.
Kisah serupa juga mewarnai sudut-sudut lain di pelosok Jember. Di SMPN 6 Tanggul, MPLS tahun ini hanya diikuti 18 siswa kelas VII. Begitu pula di SMPN 4 Sumberjambe, yang hanya menerima 12 siswa baru.
Meski angkanya kecil, para pendidik di sekolah-sekolah pinggiran ini tetap teguh menjaga api pendidikan agar terus menyala, meski harus menembus sunyinya pelosok perkebunan dan perbukitan. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh