Radar Jember – Senyum para siswa baru tak hanya disambut guru dan orang tua di hari pertama masuk sekolah.
Mereka juga disambut dengan sebuah janji bersama, bahwa sekolah akan menjadi tempat yang aman untuk belajar, nyaman untuk bertumbuh, dan bebas dari rasa takut akibat perundungan.
Komitmen itu digaungkan melalui Deklarasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) yang mengawali rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN Kebonsari 04 Jember, kemarin (13/7).
Deklarasi tersebut melibatkan Dinas Pendidikan (Dispendik) Jember, pihak sekolah, komite, orang tua, hingga siswa baru.
Kegiatan ini menjadi tindak lanjut deklarasi BSAN yang sebelumnya digelar serentak oleh Pemkab Jember bersama forkopimda, OPD, dan ribuan sekolah, baik secara luring maupun daring, di Pendapa Wahyawibawagraha, Jumat (10/7).
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dispendik Jember Nurul Hafid Yasin mengatakan, tema yang diusung tahun ini bukan sekadar slogan penyambutan siswa baru.
Lebih dari itu, menjadi langkah awal membangun lingkungan sekolah yang membuat setiap anak merasa diterima, nyaman, dan berani mengembangkan potensi dirinya.
“Ini sebagai wujud menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman bagi anak-anak. Sehingga mereka bisa mengeluarkan potensinya, betah di sekolah, dan menjadikan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar,” katanya.
Menurut Hafid, MPLS Ramah juga menjadi pintu masuk pelaksanaan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN).
Karena itu, seluruh sekolah didorong menghadirkan lingkungan belajar yang benar-benar terbebas dari praktik perundungan, kekerasan, maupun perlakuan yang dapat mengganggu tumbuh kembang peserta didik.
“Tujuannya agar anak-anak mendapatkan rasa aman dan nyaman selama belajar, tidak ada lagi bullying maupun tindak kekerasan. Sehingga mereka bisa berkembang dengan baik, baik secara intelektual maupun pembentukan karakter,” jelasnya.
Kepala SDN Kebonsari 04 Jember, Imam Mustofa, mengatakan MPLS menjadi momen penting bagi siswa baru untuk mulai mengenal teman, guru, serta lingkungan sekolah yang akan menjadi tempat mereka belajar setiap hari.
Ketika anak-anak saling mengenal sejak awal, menurutnya, rasa peduli dan saling menghargai akan lebih mudah tumbuh sehingga tercipta suasana belajar yang positif.
Nantinya, pelaksanaan MPLS akan berlangsung selama lima hari ke depan.
Siswa tidak hanya diperkenalkan dengan lingkungan sekolah, tetapi juga mendapat pembelajaran mengenai pencegahan bullying.
Itu melalui permainan edukatif, diskusi, hingga pemutaran video yang disesuaikan dengan usia mereka.
Imam menilai pendekatan tersebut lebih efektif karena anak-anak sekolah dasar masih sering belum memahami batas antara bercanda dan tindakan yang tergolong perundungan.
“Kadang anak-anak terlena dengan suasana bercanda, sehingga belum bisa membedakan mana yang termasuk bullying dan yang tidak,” pungkasnya. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh