Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Perjuangan Luar Biasa! Demi Sinyal Ujian, Dua Siswa di Jember Rela Tempuh 12 KM dan Menginap di Rumah Guru!

Jumai RJ • Selasa, 7 April 2026 | 03:07 WIB
BERGABUNG: Dua siswa kelas IX SMPN 4 Tempurejo mengerjakan TKA di SMPN 2 Tempurejo. (JUMAI/RADAR JEMBER)
BERGABUNG: Dua siswa kelas IX SMPN 4 Tempurejo mengerjakan TKA di SMPN 2 Tempurejo. (JUMAI/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Sekolah di daerah perkebunan dan di lereng gunung membuat dua siswa SMPN 4 Tempurejo harus memilih jalan berbeda dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA). Mereka memilih ujian di sekolah lain, di SMPN Tempurejo 2 yang jaraknya sekitar 12 kilometer.

Pagi itu, udara di kawasan perkebunan Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo, masih terasa sejuk. Jalanan sempit yang membelah kebun tampak lengang.

Dari sudut wilayah yang jauh dari hiruk-pikuk kota itulah, dua siswa harus memulai perjalanan berbeda demi mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Baca Juga: Teror Lempar Batu Sasar Bus Pariwisata Saat Melintas di Jalan Jember Lumajang

Di tengah keterbatasan sinyal dan akses jaringan, pilihan itu bukan soal nyaman atau tidak. Melainkan soal bisa atau tidaknya mereka mengikuti ujian.

Mereka adalah adalah Wahyu Panca Wijaya dan Rega Fahri Pratama, dua siswa kelas IX SMPN 4 Tempurejo, yang harus “berpindah” sementara. Bukan pindah sekolah, melainkan menumpang ujian ke SMPN 2 Tempurejo pada hari pertama pelaksanaan TKA, kemarin (6/4).

Sekolah mereka yang berada di wilayah Afdeling Terate, PTP Nusantara I Rayon 5 Kebun Kotta Blater. Sebuah lokasi yang dikelilingi hamparan perkebunan dan jauh dari pusat keramaian.

Di tempat seperti itu, sinyal internet masih menjadi kemewahan yang tak selalu hadir stabil. “Kami sebenarnya sudah siap melaksanakan TKA mandiri di sekolah,” ujar Kepala SMPN 4 Tempurejo, R. Ach. Djauhari.

Baca Juga: Plengsengan Ambrol, Jalan Antar Desa di Jember Ini Terancam Putus

Simulasi demi simulasi telah dilalui. Guru telah meminjamkan laptop dan wifi juga sudah terpasang. Gladi bersih pun sempat berjalan lancar. Namun, alam dan kondisi wilayah berkata lain.

“Karena lokasi sekolah jauh dari perkotaan, sinyal masih belum stabil. Kami khawatir terjadi gangguan saat pelaksanaan,” lanjutnya.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Dalam sistem ujian berbasis komputer seperti TKA yang sebelumnya dikenal sebagai ANBK koneksi menjadi kunci utama. Sekali jaringan terganggu, konsentrasi siswa bisa buyar, bahkan ujian terancam terhenti.

Akhirnya diputuskan: dua siswa tersebut akan mengikuti ujian di sekolah lain yang jaringannya lebih stabil, yakni SMPN 2 Tempurejo.

Keputusan itu membawa cerita lain. Jarak dari rumah menuju lokasi ujian tidaklah dekat, sekitar 10-12 kilometer dengan medan jauh dari kata nyaman.

Demi memastikan keduanya bisa mengikuti ujian tepat waktu, seorang guru harus menjemput langsung ke rumah mereka menggunakan mobil. Bahkan, agar lebih dekat, keduanya sempat menginap di rumah kerabat.

“Ada guru yang menjemput mereka. Kami ingin memastikan mereka tidak terlambat dan bisa fokus saat ujian,” kata Djauhari.

Baca Juga: Tingkatkan Kualitas Pendidikan, BRI Renovasi Gedung MTs Nuruz Zaman di Mayang Jember

Di SMPN 2 Tempurejo, suasana ujian berlangsung lebih ramai. Sebanyak 108 siswa mengikuti TKA yang dibagi dalam dua gelombang dan tiga sesi. Ruang-ruang kelas disulap menjadi tempat ujian digital dengan deretan komputer jinjing yang siap digunakan.

Kepala SMPN 2 Tempurejo, Nang Sulistiyono, mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai antisipasi, termasuk berkoordinasi dengan PLN untuk mencegah pemadaman listrik.

Sekolah juga menyiapkan genset sebagai cadangan. “Kami ingin pelaksanaan TKA berjalan lancar tanpa kendala,” ujarnya.

Di antara ratusan peserta itu, Wahyu dan Rega duduk sebagai tamu. Meski berbeda asal sekolah, mereka tetap menjalani ujian dengan tenang.

Tak ada perbedaan perlakuan. Tak ada juga gangguan berarti. “Alhamdulillah, pelaksanaan berjalan lancar,” tambahnya. 

Kisah dua siswa ini menjadi potret kecil dari tantangan pendidikan di wilayah pinggiran. Di saat sebagian sekolah sudah berbicara tentang digitalisasi dan teknologi, ada yang masih harus berjuang sekadar mendapatkan sinyal stabil.

Namun di balik itu, ada semangat yang tak kalah kuat. Semangat guru yang rela menjemput siswa. Semangat sekolah yang mencari solusi. Dan tentu saja, semangat siswa yang tetap melangkah, meski harus menempuh jalan lebih jauh. (jum)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#tempurejo #Jember #tka #Tes Kemampuan Akademik 2026