Radar Jember - Pemerintah secara resmi memperkenalkan 16 lokasi Sekolah Garuda di berbagai daerah Indonesia pada Rabu (8/10) kemarin.
Program ini adalah bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat pemerataan pendidikan unggul di seluruh wilayah Tanah Air.
Kendati demikian, publik juga menyoroti bagaimana Sekolah Garuda akan berjalan berdampingan dengan Sekolah Rakyat (SR), program pemerintah yang sudah dijalankan.
Berikut ini adalah beberapa perbedaannya:
Sekolah Garuda untuk Anak 3T Berkompetensi Unggul
Menurut Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Fauzan, Sekolah Garuda didesain untuk anak-anak dari wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang memiliki kompetensi akademik unggul.
“Kalau Sekolah Garuda itu semangatnya memberikan akses pada anak-anak di daerah 3T yang memiliki kompetensi unggul,” jelas Fauzan di Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Rabu (8/10).
Karena menargetkan siswa berprestasi, proses seleksi masuk Sekolah Garuda dilakukan secara ketat bagi lulusan SMP/sederajat.
Tujuannya, memastikan bahwa sekolah ini benar-benar menjadi pusat pembinaan talenta unggul dari seluruh pelosok negeri.
Selain fasilitas modern dan kurikulum berbasis data, Sekolah Garuda juga dirancang dengan pendekatan ekosistem pembelajaran inklusif.
Yakni menggabungkan kegiatan akademik, pelatihan kepemimpinan, hingga pengabdian masyarakat sebagai bagian dari proses belajar.
Sekolah Rakyat, Akses Pendidikan untuk Anak Kurang Mampu
Berbeda dengan Sekolah Garuda, Sekolah Rakyat (SR) hadir untuk menjawab kebutuhan anak-anak dari keluarga kurang mampu agar tetap mendapat akses pendidikan bermutu.
“Sekolah Rakyat semangatnya adalah memberikan pendidikan kepada anak-anak yang kurang mampu secara umum,” ujar Fauzan.
Sekolah Garuda menitikberatkan pada pengembangan potensi unggul di wilayah 3T, sedangkan Sekolah Rakyat lebih fokus pada pemerataan akses.
Supaya tak ada anak Indonesia yang tertinggal dari sisi pendidikan, apa pun kondisi ekonominya.
Dengan demikian, kedua program ini saling melengkapi.
Sekolah Rakyat membuka jalan bagi pemerataan, sementara Sekolah Garuda mencetak bibit unggul dari berbagai penjuru negeri.
Baca Juga: Hampir Putus Sekolah, Sifan Kini Kembali Gapai Harapan Berkat Doa Ibu dan Sekolah Rakyat di Bekasi
16 Sekolah Garuda Diperkenalkan Serentak
Dalam peluncuran perdananya, pemerintah memperkenalkan 16 Sekolah Garuda yang tersebar di seluruh Indonesia.
Sebanyak 12 di antaranya merupakan sekolah transformasi, seperti SMAN 10 Fajar Harapan (Aceh), SMA Unggul Del (Sumatera Utara), SMA Taruna Nusantara (Jawa Tengah), dan SMA Averos Sorong (Papua Barat Daya).
Sementara, empat sekolah baru tengah dibangun di Belitung Timur, Timor Tengah Selatan (NTT), Konawe Selatan (Sulawesi Tenggara), dan Bulungan (Kalimantan Utara).
Menurut Mendiktisaintek Brian Yuliarto, pembangunan satu Sekolah Garuda baru memerlukan dana sekitar Rp200 miliar, dengan empat sekolah ditargetkan beroperasi pada tahun ajaran 2026.
Dua Jalur, Satu Tujuan
Meski berbeda fokus, baik Sekolah Garuda maupun Sekolah Rakyat berangkat dari satu visi besar: memastikan semua anak Indonesia mendapat kesempatan pendidikan yang layak.
Sekolah Rakyat memperkuat fondasi akses, sementara Sekolah Garuda menyiapkan generasi unggul yang siap bersaing di level nasional maupun global.
Keduanya menjadi simbol bahwa pemerataan pendidikan bukan sekadar membangun sekolah, tetapi juga membangun masa depan bangsa.
Editor : Imron Hidayatullahh