Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Hampir Putus Sekolah, Sifan Kini Kembali Gapai Harapan Berkat Doa Ibu dan Sekolah Rakyat di Bekasi

Imron Hidayatullahh • Sabtu, 27 September 2025 | 13:00 WIB
Sifan Alyori, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi.
Sifan Alyori, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi.

Radar Jember - Menjadi siswa Sekolah Rakyat bagi Sifan Alyori, 16, bagaikan sebuah keajaiban.

Ia meyakini doa sang ibu, yang tengah berjuang melawan kanker, yang membuat dirinya lolos seleksi.

Sehingga bisa melanjutkan pendidikan dan tetap berpegang pada mimpinya: menjadi dokter bedah ortopedi.

“Katanya saya hampir tidak lolos, tapi alhamdulillah akhirnya bisa dan saya bahagia banget. Bisa melanjutkan cita-cita saya untuk sekolah lagi dan suatu hari masuk perguruan tinggi,” tutur Sifan di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi, beberapa waktu lalu, dilansir dari laman Kemensos.

Kenangan hari pertama masuk Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi pada 14 Juli lalu masih segar dalam ingatannya.

Bersama sang ibu, ia menempuh perjalanan dengan angkutan umum, membawa harapan baru yang lahir di tengah keterbatasan.

Sejak kecil, Sifan tumbuh hanya bersama ibunya di kawasan Jakasampurna, Bekasi Barat.

Sang ayah meninggal saat usianya baru empat bulan.

Ibunya, meski sakit kanker perut ganas, tetap menjadi satu-satunya penopang keluarga.

“Kadang ibu mencari pekerjaan dari rumah orang. Kalau ada yang butuh bantuan bersih-bersih, ibu kerjakan. Jadi serabutan, apa saja yang ada,” kata Sifan lirih.

Di tengah kondisi itu, Sifan berusaha membantu sebisanya, sambil tetap menyisihkan waktu untuk belajar dan membaca buku.

Semangatnya mengenalkan ia pada Sekolah Rakyat.

“Saya kaget saat pertama kali pas dibilang sekolah ini tidak berbayar. Karena sebelumnya ada sekolah lain yang biaya masuknya besar, sementara saya dan ibu kurang mampu. Jadi, hadirnya Sekolah Rakyat itu seperti jawaban doa,” ungkap Sifan.

Namun sang ibu sempat ragu.

Baginya, terlalu sulit dipercaya ada sekolah gratis dengan fasilitas lengkap.

“Awalnya ibu mikir-mikir, kayak ini beneran enggak? Kayak terlalu ajaib ada sekolah gratis. Saya yang meyakinkan ibu sampai akhirnya setuju,” ujar Sifan.

Keyakinan itu tumbuh dari mimpinya menjadi dokter bedah ortopedi.

Ia sudah menimbang kemungkinan kuliah di dalam negeri maupun luar negeri.

“Kalau di luar negeri saya ingin ke Universitas Yonsei, Korea. Kalau di Indonesia mungkin UI atau UGM,” katanya penuh tekad.

Meski sadar jalannya tidak mudah, ia menolak menyerah.

Sebelum mengenal Sekolah Rakyat, Sifan bahkan sudah bersiap berhenti sekolah setahun untuk bekerja.

“Saya pernah bantu-bantu markir, jadi tukang cuci piring, jualan es, pokoknya apa saja yang bisa dilakukan,” ujarnya.

Kini, setiap langkahnya ia dedikasikan untuk ibu yang ia cintai.

“Saya ingin bisa membahagiakan ibu dan suatu saat membawa beliau ke Tanah Suci,” kata Sifan dengan suara bergetar.

Kisah Sifan menjadi potret nyata arti besar Sekolah Rakyat.

Bukan sekadar ruang belajar, tetapi pintu harapan bagi anak-anak bangsa untuk tetap bermimpi, meski jalan mereka penuh liku.

Editor : Imron Hidayatullahh
#Sekolah Rakyat #STPL Bekasi #Sekolah Rakyat Menengah Atas #bedah ortopedi #SRMA 13 Kota Bekasi