Radar Jember - Gerak cepat pemerintah merealisasikan Sekolah Rakyat (SR) menjadi angin segar bagi masyarakat kurang mampu untuk mengakses pendidikan yang merata dan lebih mudah.
Kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh pemerintah daerah.
Oleh karena itu, pemerintah daerah juga perlu memperhatikan prinsip-prinsip yang sesuai agar SR dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Jember Fitrotul Mufaridah menilai, program SR menjadi salah satu pintu membahagiakan bagi masyarakat, khususnya keluarga tidak mampu.
Namun dia mengingatkan agar SR dilaksanakan sesuai prinsip.
Salah satunya tidak fokus pada kategori tidak mampu secara finansial saja.
Sebab kategori tidak mampu itu, kata dia, tidak hanya finansial.
Tetapi tidak mampu itu juga termasuk dalam hal emosional juga.
"Kalau mau mengembalikan pada fakta yang ada, tentu makna keluarga tidak mampu tidak harus selalu dilihat dari sisi finansial. Tetapi juga dari emosional juga. Misalnya bagi keluarga dan anak-anak yang pernah mengalami kekerasan. Apa pun bentuknya. Sehingga mereka yang memutuskan tidak lanjut sekolah karena kasus yang dialami, bisa kembali mendapatkan pendidikan yang layak," jelas Fitroh, Minggu (8/6/2025).
Menurutnya, prinsip itu juga menjadi dasar penyelenggaraan pendidikan yang layak.
Apalagi semangat SR dibangun untuk memberikan pendidikan yang merata.
Sehingga SR menjadi salah satu alternatif ruang belajar bagi anak-anak kurang mampu untuk mendapatkan hal-hal baru.
Perempuan yang juga Ketua Umum Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Jember ini menjelaskan, kehadiran SR harus bisa memberikan ruang belajar yang sama bagi anak-anak sesuai perkembangannya dan potensinya.
Oleh karena itu, konsep SR harus berbeda dengan sekolah pada umumnya.
Tentunya itu juga memperhatikan banyak aspek.
Tidak hanya secara psikologis, tapi juga kode etik pendidikan, guru maupun hal lainnya.
"Jangan sampai guru yang asal mau saja, tetapi benar-benar dipilih karena anak yang akan sekolah di SR, tentu mereka yang selama ini tidak mendapatkan keadilan dari sisi akses pendidikannya. Sehingga dibutuhkan guru yang memiliki empati bagus, punya perhatian dan kasih sayang cukup baik. Ini benar-benar akan menjadi alternatif bagi mereka menemukan ruang baru dalam belajar," katanya.
Dia berharap, pemerintah benar-benar memperhatikan penyelenggaraan SR, terutama di Jember.
Sehingga tidak akan muncul kesenjangan antara SR dengan sekolah negeri maupun swasta.
"Sekali lagi, kami berharap keluarga tidak mampu tidak hanya dilihat dari sisi finansial, tetapi juga sosial-emosional. Ini cukup penting diperhatikan. Maka, harus sesuai prinsip pendidikan yang memanusiakan manusia, menghidupkan pola komunikasi yang baik, dan menjaga prinsip. Sehingga kekhawatiran (perbedaan maupun kesenjangan, Red) itu tidak akan terjadi," pungkasnya. (kin/nur)
Baca Juga: Cerita dari Gang Sempit di Banjarnegara, Harapan Rizky Kembali Menyala lewat Sekolah Rakyat
Editor : Imron Hidayatullahh