Radar Jember - Sebuah rumah mungil seluas 42 meter persegi di Dusun Gunungsari Kulon, Desa Jogomulyo, Kecamatan Tempuran, Magelang, menjadi saksi kehidupan seorang ibu dan anak menggantungkan harapan pada pendidikan.
Rumah itu sudah lama renta—atapnya lapuk dan bocor, dindingnya lembap, dan ruang gerak di dalamnya amat terbatas.
Tapi, di sanalah tekad dan cinta tumbuh, di tengah keterbatasan yang nyaris tak memberi ruang untuk mimpi.
Endang Ristiningsih, 53, seorang ibu tunggal, menghidupi ketiga anaknya dari hasil berjualan keripik pisang.
Tak cukup bergelut dengan satu pekerjaan, ia juga menjadi buruh harian lepas.
Apa penghasilannya cukup? Tunggu dulu.
Pendapatan bulanannya tak sampai satu juta rupiah.
Hanya sekitar Rp 900 ribu—jumlah yang habis terbagi untuk kebutuhan pokok.
Tak ada sisa untuk tabungan, apalagi biaya pendidikan.
Anak bungsunya, Ely Nur Laela, 15, sempat hampir menyerah.
Setelah lulus SMP, semangatnya untuk melanjutkan sekolah perlahan padam.
Realitas yang keras membuat cita-cita tampak seperti kemewahan yang hanya dimiliki orang lain.
Pendidikan tampak bukan pilihan.
Namun, titik terang datang dari Program Sekolah Rakyat.
Program ini membuka kembali pintu yang hampir tertutup bagi Ely—kesempatan untuk terus belajar, untuk terus berharap.
Kondisi keluarga mereka yang terdata dalam desil 3 Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), serta komitmen Ely yang kuat untuk bersekolah, membuatnya dinilai layak menerima bantuan.
Baca Juga: Cerita dari Gang Sempit di Banjarnegara, Harapan Rizky Kembali Menyala lewat Sekolah Rakyat
Endang tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya saat mendengar kabar tersebut. Suaranya bergetar saat mengucapkannya.
"Yang tadinya tidak semangat, sekarang saya ingin menyekolahkan anak saya,” ucapnya dengan haru.
Ely pun mengangguk pelan, seakan menegaskan bahwa harapan itu belum padam.
Matanya berkaca-kaca, tapi di baliknya tersimpan semangat yang mulai menyala kembali.
"Setelah lulus di Sekolah Rakyat, saya bercita-cita sebagai prajurit TNI Angkatan Udara," katanya lirih, tapi tegas.
Di rumah kecil yang rapuh itu, sebuah mimpi besar kembali tumbuh—didorong oleh cinta seorang ibu, dan kesempatan yang tak ternilai harganya.
Editor : Imron Hidayatullahh