radar jember - Persaingan di dunia kerja kian ketat. Tak sedikit lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang kesulitan mencari pekerjaan tetap, meski telah lulus bertahun-tahun.
Banyak dari mereka akhirnya memilih pekerjaan lepas, pekerjaan sektor informal, atau bahkan kembali melanjutkan pendidikan demi meningkatkan peluang karier.
Namun, berapa sebenarnya rata-rata penghasilan lulusan SMA dan SMK di Indonesia saat ini?
Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2024, rata-rata gaji atau upah bulanan lulusan SMA dan SMK menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan.
- Lulusan SMA: rata-rata gaji berkisar antara Rp2,000,000 – Rp3,500,000 per bulan tergantung sektor pekerjaan dan wilayah.
- Lulusan SMK: sedikit lebih tinggi, yakni sekitar Rp2,500,000 – Rp4,000,000 per bulan, terutama bagi yang bekerja di sektor teknis atau industri manufaktur.
Meskipun lulusan SMK umumnya dipersiapkan untuk langsung masuk dunia kerja, kenyataannya tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan SMK masih tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.
Data BPS mencatat bahwa TPT untuk lulusan SMK pada 2024 mencapai sekitar 8,42%, sedangkan lulusan SMA berada di angka 6,68%.
Menurut ekonom dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, ada beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya penghasilan dan sulitnya mencari pekerjaan bagi lulusan SMA dan SMK:
- Ketidaksesuaian antara keterampilan dan kebutuhan industri.
Banyak lulusan SMK belum sepenuhnya menguasai skill yang dibutuhkan oleh pasar kerja saat ini, terutama yang terkait digitalisasi. - Persaingan dengan lulusan sarjana.
Banyak perusahaan lebih memilih lulusan D3 atau S1 untuk posisi yang sebenarnya bisa diisi oleh lulusan SMA atau SMK. - Konsentrasi lapangan kerja di kota besar.
Sebagian besar peluang kerja formal berada di wilayah perkotaan, sedangkan lulusan dari daerah sering kali tidak memiliki akses dan informasi yang memadai.
Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terus berupaya mendorong:
- Revitalisasi pendidikan vokasi, dengan meningkatkan kualitas guru dan kurikulum SMK agar lebih sesuai dengan industri.
- Program pelatihan keterampilan berbasis digital dan sertifikasi kompetensi.
- Program Prakerja dan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk lulusan yang belum terserap dunia kerja.
Selain itu, adanya platform seperti KarirHub, SISNAKER, dan portal kerja lokal diharapkan dapat mempertemukan lulusan muda dengan dunia kerja secara lebih efektif.
Meski tantangan masih besar, para lulusan SMA dan SMK tetap punya peluang untuk berkembang, terutama jika aktif meningkatkan keterampilan dan mau belajar hal baru.
Dunia kerja hari ini tak hanya soal ijazah, tapi juga soal kompetensi dan kesiapan menghadapi perubahan zaman.
Penulis: Nasisya Awaleta Kardestya