Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Usai Kejadian Bullying di Lingkungan Mahasiswa, Ini Respon dan Komentar Mahasiswa Unej Terkait Hal Itu

Radar Digital • Kamis, 2 Januari 2025 | 21:26 WIB

Ilustrasi Bullying DOK RADAR JEMBER
Ilustrasi Bullying DOK RADAR JEMBER
 

RADAR JEMBER – Perundungan di kalangan mahasiswa belakangan ini menjadi isu yang mengkhawatirkan, terutama setelah seorang mahasiswa kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) yang berujung bunuh diri ataupun dugaan adanya perundungan Mahasiswa FISIP Unej berinisial DRY yang bunuh diri dengan loncat dari lantai 8.

Fenomena ini semakin mencuat karena beberapa faktor.

Seperti tekanan akademik, tuntutan sosial, dan masalah pribadi yang sering kali membuat mahasiswa stres.

Dengan adanya fenomena itu, tanggapa datang dari salah seorang mahasiswa.

Salah satunya Sirrina Syiatul Baroroh, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, menilai perundungan di kampus sering kali dipicu oleh ketimpangan sosial dan ekonomi antar mahasiswa.

Menurutnya, di Fakultas Kedokteran, misalnya, banyak mahasiswa yang berasal dari keluarga mampu dan memiliki latar belakang pendidikan yang kuat, yang membuat mahasiswa lain dari latar belakang lebih sederhana menjadi sasaran bullying.

"Seringkali, mereka yang lebih 'privileged' merasa superior dan ini membuat mahasiswa dengan latar belakang yang kurang beruntung menjadi sasaran bullying," ungkap Sirrina.

"Tindakan bullying sering kali terjadi dalam bentuk senioritas, di mana senior merasa berhak untuk mengontrol junior mereka, bahkan dengan cara yang tidak adil," kata Sirrina.

Dia juga mengingatkan bahwa banyak korban perundungan yang akhirnya menjadi pelaku ketika mereka naik tingkat.

Menurut Sirrina, universitas seharusnya tidak menutupi kasus bullying demi menjaga reputasi, melainkan harus bertanggung jawab dan menangani kasus tersebut secara terbuka.

Sirrina juga menekankan perlunya perubahan budaya di kampus agar lebih inklusif dan saling menghargai.

"Kampus harus menunjukkan keberanian untuk mengungkap masalah ini. Dengan bersikap terbuka, mereka bisa mendapatkan apresiasi karena menunjukkan komitmen dalam menangani perundungan," tambahnya.

Senada dengan Sirrina, mahasiswa lainnya, yakni Kayla Bintang Nafizah, mahasiswa FIB Unej, juga mengungkapkan keprihatinannya atas kasus perundungan yang berujung pada bunuh diri mahasiswa Unpad maupun Unej.

Ia menegaskan bahwa perundungan adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Kayla juga menyoroti dampak negatif perundungan terhadap reputasi kampus.

"Sebagai mahasiswa, kita harus sadar diri dan mengerti mana yang baik dan mana yang buruk. Tidak patut bagi kita melakukan hal-hal yang merugikan orang lain," ujarnya.

"Kampus seharusnya menjaga nama baiknya, tetapi dengan kasus seperti ini, malah bisa mencoreng citra kampus," katanya.

Ia mengingatkan pentingnya mengatasi dampak psikologis pada korban, yang bisa berujung pada trauma dan gangguan mental jangka panjang.

Sebagai solusi, Kayla mengusulkan agar kampus lebih proaktif dalam menanggapi kasus perundungan, salah satunya dengan memanfaatkan media sosial untuk mengangkat kasus-kasus tersebut.

"Jika kasus tidak terangkat, pelaku bisa lolos dari hukuman. Namun, dengan melibatkan media sosial, pelaku bisa lebih mudah ditemukan dan ditindaklanjuti," ujar Kayla.

"Pelaku harus mendapatkan hukuman yang setimpal agar kasus perundungan ini tidak terulang lagi," pungkasnya. (bud)

 

Editor : Radar Digital
#bully #Jember #perundungan #mahasiswa Unej