TEGALBOTO, Radar Jember - Fenomena LGBT terus menjadi topik perbincangan yang hangat di berbagai kalangan. Hal tersebut menimbulkan beragam respons publik. Termasuk dari kalangan mahasiswa. Bagus Zainur, Ketua Himpunan Ikatan Mahasiswa Sastra Indonesia (Imasind) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember (Unej), memberikan komentarnya.
Secara pribadi dia menentang LGBT. Bagus mengakui penentangan tersebut searah dengan agama yang ia anut serta nilai-nilai moral yang berlaku di Indonesia. “Saya pribadi melarang hal tersebut. Bahkan menurut negara pun menentang, dan saya sejalan dengan hal itu,” ungkap Bagus.
Senada dengan Bagus, Misbaqul Arfah, mahasiswi Fakultas Hukum Unej yang pernah magang sebagai staf advokasi Satgas Pusat Studi Gender, mengemukakan bahwa ia juga tidak menyetujui dan menolak keras LGBT. “Sebagai seorang muslim, tentu saya menolak keras LGBT, karena hal tersebut bertentangan dengan agama dan nurani saya. Namun, jika dipandang dari sudut pandang hak asasi manusia, sepanjang LGBT tersebut tidak melanggar norma dan kepentingan orang lain, saya rasa hal tersebut menjadi privasi masing-masing,” terang Arfah.
Arfah menjelaskan jika ditinjau berdasarkan hak asasi manusia, ada asas yang disebut dengan non-derogable rights dan derogable rights. Non-derogable rights merupakan hak asasi yang bersifat absolut dan tidak dapat dikurangi. Menurut Arfah, banyak pihak yang salah menempatkan LGBT sebagai bagian dari non-derogable rights.
“Banyak orang yang mengartikan bahwa hak asasi manusia terkait LGBT bersifat mutlak, karena berhubungan dengan kebebasan berekspresi dan sebagainya. Padahal asas non-derogable rights boleh dibatasi oleh pemerintah sepanjang asas non-derogable rights ini melanggar norma masyarakat,” jelasnya.
Di Indonesia saat ini, sebagian besar masyarakat memang masih menganggap fenomena LGBT sebagai hal yang tabu, meskipun tidak tertulis secara spesifik dalam undang-undang negara. Arfah mengemukakan bahwa selama berkegiatan di Pusat Studi Gender, ia belum pernah menemui kasus LGBT di lingkungan Universitas Jember.
“Sebenarnya kalau kecenderungan ke arah sana belum ada. Mungkin karena kaum LGBT ini agak menutup diri. Namun, ada beberapa kecenderungan yang dapat dilihat. Misalnya, mohon maaf, agak melambai dan sebagainya,” pungkas Arfah. (c2/bud)
Editor : Radar Digital