MENDAKI gunung merupakan aktivitas yang membutuhkan fisik dan mental yang baik.
Namun, tak jarang pendaki yang memilih untuk membuka jalur baru yang belum terjamah pendaki lainnya.
Sebab, dianggap memiliki tantangan dan sensasi yang berbeda.
Seperti yang biasa dilakukan oleh Neni Haryanti, mahasiswa Prodi Hubungan Internasional FISIP Unej.
Sebelum memutuskan untuk membuka jalur pendakian sendiri, perempuan berhijab ini menjelaskan harus menyiapkan beberapa hal.
Di antaranya mereka-reka jalur mana saja yang akan dilewati. Kemudian, plotting ke peta dua dimensi. Sembari menentukan estimasi waktu yang dibutuhkan selama perjalanan.
Selain itu, mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Mapalus Unej ini menyebut, peralatan yang harus dibawa juga lebih banyak.
Karena harus membabat jalan yang akan dilewati. Pembukaan jalur baru juga harus siap dengan tantangan lain yang harus dihadapi.
Salah satunya berhadapan dengan hewan-hewan di hutan. Dari hal itu, perlengkapan kesehatan juga harus disiapkan dengan baik.
“Lebih seru buka jalur. Karena harus melihat peta dan nentuin koordinat. Kalau sudah jalurnya, kan tinggal fokus jalan,” ucapnya sembari tersenyum.
Membuka jalur pendakian baru juga harus benar-benar memperhatikan waktu. Hal ini berkaitan dengan logistik yang akan dibawa.
Meskipun biasanya para pendaki membawa logistik cadangan, tapi hanya cukup untuk makan sekali hingga dua kali. Jika melewati waktu yang ditentukan, maka pendaki harus siap untuk survival.
“Mau gak mau cari makan dan minum di gunung,” katanya.
Pendaki yang biasa membuka jalur baru juga dituntut untuk bisa membaca peta kontur.
Di dalamnya lebih spesifik dan terdapat keterangan yang lebih detail. Termasuk keterangan lintang selatan hingga bujur timur.
Dengan peta tersebut, pendaki akan mengetahui punggung gunung yang aman untuk dilalui.
“Dari pembacaan peta itu, kami aplikasikan ke peta dua dimensi nantinya,” imbuhnya.
Sebagai perempuan berhijab, Neni mengaku tidak merasa terganggu ketika naik gunung dengan fashion yang biasa dia terapkan itu.
Bahan pakaian yang dikenakan menurutnya juga harus benar-benar dipilih, agar tetap nyaman ketika digunakan di dalam perjalanan mendaki.
“Sama sekali gak ganggu sih, kalau hijab yang saya pakai,” tuturnya.
Perempuan yang kini berusia 21 tahun ini juga mengatakan, sempat mengalami insiden saat melakukan pendakian di Gunung Merbabu.
Saat itu, sebelum sampai di camping ground, terjadi kebakaran yang mengharuskan dia bersama sejumlah temannya menghentikan perjalanannya. Serta melakukan evakuasi dan mencegah pendaki lain untuk naik.
“Awalnya kami kira awan. Tapi, tiba-tiba kami dikabari bahwa itu kebakaran,” pungkasnya. (ham/c2/nur)
Editor : Radar Digital