BACA JUGA : Teddy Minahasa Tantang Kapolri Sigit Buka-Bukaan
Dalam permainan tradisional, anak bisa mengembangkan kreativitas dan mengenal budaya dari masing-masing daerah. Semakin berkembangnya zaman, permainan tradisional memang jarang ditemui di berbagai daerah. Hanya ada daerah tertentu yang masih mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak. Seperti egrang, engklek, lompat tali, dan kelereng.
“Salah satu tujuan kami membuat mainan tradisional, selain ingin mengenalkan anak-anak tentang permainan tradisonal, juga karena dunia anak adalah bermain, tidak memandangi gawai terus-menerus,” beber Farha Ciciek, founder Tanoker.
Kurangnya pengawasan dari orang tua bisa menjadi salah satu faktor penyebab anak menjadi kecanduan gawai. Untuk itu, kini banyak tantangan untuk mengenalkan kembali permainan tradisional.
Selain itu, ruang atau wadah bagi anak-anak dalam bermain masih sempit. Kondisi ruang juga dapat memengaruhi ketertarikan anak dalam bermain permainan tradisional. “Anak-anak ini mempunyai dunia sendiri. jadi, wadah yang luas juga sangat diperlukan. Tanpa adanya gangguan aktivitas yang lain,” jelasnya.
Sementara itu, anak juga akan lebih mengetahui berbagai macam permainan tradisional apabila dikenalkan oleh orang-orang dewasa. Dengan begitu, anak-anak bisa bermain dengan temannya di lingkungannya tinggal.
Ciciek menyebut, permainan tradisional tidak boleh punah oleh zaman modern. Sebab, merupakan warisan budaya lokal. Keberadaannya harus tetap dilestarikan. Meski begitu, keberadaan gawai tidak dimungkiri juga dapat memberikan dampak positif, asalkan tidak kecanduan. Dengan begitu, permainan tradisional bisa tetap hidup dan gawai bisa tetap bermanfaat. (mg4/c2/nur)
Editor : Safitri