BACA JUGA : Sayur-mayur Paling Banyak Diburu Dalam Pasar Ramadan di Lumajang
Saat masuk SMK, pada 22 tahun silam, Fendik memutuskan untuk nyantri di PP Nuris Jember. Berharap keseimbangan antara ilmu umum dan agama terpenuhi. Aktivitasnya di sana serupa seperti santri lainnya. Pagi, sore, dan malam ikut mengaji. Namun, dia kerap membantu di pondok, khususnya apa saja yang berkaitan dengan kerusakan listrik.
Pria yang menekuni bidang kelistrikan itu saat ini sudah menjalani kehidupannya yang mapan sebagai seorang dosen tetap di Program Studi Mekatronika Politeknik Negeri Jember. Seusai dia lolos seleksi dan mengikuti 35 hari pelatihan Expert Mekatronik di Turki dari program yang diselenggarakan oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. Sebelumnya, pada 2014 sampai 2019 dia masih menjadi dosen tetap non-PNS di jurusan teknologi informasi.
Sepak terjangnya menjajal dunia pendidikan tidak dalam waktu singkat. Lepas sekolah, dia mengejar gelar sarjana Pendidikan Teknik Elektro di Universitas Negeri Surabaya, lalu berlanjut di Institut Teknologi Surabaya untuk mendapatkan gelar magister pada Program Studi Jaringan Cerdas Multimedia.
Pada masa awal menjadi mahasiswa, Fendik mengaku merasakan sesuatu yang aneh dari lingkungannya yang jauh berbeda dari pesantren. Bisa dibilang tidak betah. “Dunia di kos-kosan tidak nyaman ada yang beda. Akhirnya, saya nyari pondok di Surabaya,” ucapnya. Dan hal itu berlanjut sampai dia kuliah magister.
Pria asal Dusun Padangrejo, Desa Gadingrejo, Kecamatan Mumbulsari, itu mengungkapkan bahwa dirinya pernah mendapatkan pesan saat masih nyantri di sana. “Saya dapat pesan dulu, kalau kuliah cari pondok, agar ngajinya tidak hilang,” katanya menirukan pesan pengasuh PP Nuris saat itu.
Sampai saat ini, rutinitas mengajinya masih terbawa. Termasuk bacaan surat Yasin dan Al Waqiah. Katanya, itu adalah kebiasaan yang sukar hilang. Selain karena kegiatan mengaji di pondok, Fendik mengatakan bahwa hal itu didapatkannya karena berkah kiai di PP Nuris selama nyantri, yang membuatnya masih sering bersilaturahmi ke sana.
Banyak pengajaran dan pengalaman yang Fendik dapatkan kala nyantri saat di bangku sekolah. Kepada seluruh santri dan alumni Nuris, dia menyampaikan agar memanfaatkan betul ilmu yang sudah didapat. Menurutnya, keseimbangan antara ilmu dunia dengan agama itu penting. Dia berharap alumni yang baru saja lulus bisa meneruskan kuliah dan mengakses beasiswa. “Santrinya nggak boleh hilang,” tandasnya. (c2/nur) Editor : Safitri