BACA JUGA : Semeru Erupsi, Masyarakat Dilarang Beraktifitas hingga 17 Km dari Puncak
Kedua sekolah yang hanya mendapatkan dua siswa itu adalah SMPN 4 Tempurejo dan SMPN 5 Silo. Selain itu, ada SMPN yang juga tergolong minim pendaftar. Seperti SMPN Kalisat 4 dengan 16 pendaftar, dan SMPN Sukowono 3 ada 22 siswa yang mendaftar PPDB jalur zonasi. SMPN dengan jumlah pendaftar di bawah jumlah SMPN Sukowono 3 disinyalir masih ada lagi.
Kepala SMPN 5 Silo Zaenuri mengatakan, sekolah ada di wilayah perkebunan Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo. Hingga berita ini ditulis, siswa yang mendaftar di sekolah itu hanya 2 siswa. Keduanya merupakan lulusan SDN Sidomulyo 02 yang sekolahnya satu kompleks dengan SMPN 5 Silo.
Menurutnya, lulusan SDN Sidomulyo 02 banyak yang melanjutkan ke pondok pesantren. Sebagian lagi ke SMPN 2 Kalibaru. “Sehingga hanya ada 2 siswa yang sekolah di SMPN 5 Silo. Lokasi sekolah berada di wilayah perkebunan, sehingga banyak yang sekolah ke Banyuwangi (SMPN 2 Kalibaru, Red),” jelas Zaenuri.
Dikatakan, salah satu penyebab minimnya pendaftar di SMPN 5 Silo yaitu karena gedung sekolah rusak. Bangunannya sempat ambruk dua tahun lalu dan belum diperbaiki sampai saat ini. “Bangunan sekolah memengaruhi jumlah siswa yang mendaftar. Sementara, guru-guru juga sudah berusaha mendatangi beberapa SD negeri sekitar,” jelas Zaenuri.
Nasib memprihatinkan dengan mendapatkan 2 pendaftar pada PPDB jalur zonasi juga terjadi di SMPN 4 Tempurejo, di Desa Curahnongko. SMPN 4 Tempurejo ini hanya mengandalkan siswa yang lulus di SDN Curahnongko 8.
Kepala SMPN 4 Tempurejo Ach Djauhari mengatakan, letak atau lokasi sekolah memang jauh dari pemukiman warga. “Siswa yang sekolah di SMPN 4 Tempurejo ini adalah putra-putri karyawan Kebun PTPN 12 Kotta Blater, Tempurejo. Ketika orang tua siswa yang sekolah di SDN Curahnongko 8 pindah atau pensiun jadi karyawan kebun, siswa otomatis ikut orang tuanya,” pungkasnya.
Guru dan kepala sekolah jauh hari sebelum PPDB dilaksanakan juga sudah berusaha mendatangi SD yang dekat dengan sekolahnya. Harapannya agar siswa melanjutkan pendidikan di sekolah ini dan tidak ke sekolah lain. Namun, upaya itu tidak maksimal, karena banyak lulusan SDN maupun MI yang langsung ke pondok pesantren. Ada yang melanjutkan di madrasah tsanawiyah (MTs).
Sementara itu, Hadi Susanto, Kepala SMP Negeri 3 Sukowono di Desa Pocangan, mengaku mendapatkan siswa dengan jumlah yang lumayan. Salah satunya upayanya yaitu mendatangi rumah siswa yang baru lulus SD. “Dengan istilah guru keliling (guling) ini banyak siswa yang didapatkan. Alhamdulillah, dengan apa yang dilakukan ini bisa mendapatkan 22 siswa dari empat lembaga yang daftar,” katanya.
Dia memerinci, 22 siswa itu dari empat lembaga di dua kabupaten. Dua lembaga merupakan lulusan sekolah di Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember, dan siswa lulusan sekolah dari dua lembaga di Kecamatan Tamanan, Kabupaten Bondowoso.
“Ada siswa yang SD-nya satu kompleks dengan SMPN Satu Atap Tamanan, sekolah ke SMPN 3 Sukowono. Awalnya warga Jember anaknya sekolah ke wilayah Bondowoso. Sekarang sudah ada yang sekolah ke wilayah Jember lagi,” kata mantan guru di SMPN 3 Bangsalsari itu.
Untuk persiapan PPDB ini, pihaknya bersama dewan guru lain sudah berupaya semaksimal mungkin agar bisa mendapatkan siswa lebih. Upaya yang sudah dilakukan cukup maksimal, karena ada 2 lembaga SD negeri yang mendaftar, yakni dari SDN Sumberanom, Desa Sumberanom, Kecamatan Tamanan, dan lulusan SDN Mengen 1, Desa Mengen, Kecamatan Tamanan, Bondowoso. “Kalau tahun sebelumnya jumlah yang daftar ke SMPN 3 ada 17 siswa,” jelas Hadi.
Guru SMPN 3 Sukowono, Luluk Marliana, bersama guru lainnya di hari terakhir PPDB jalur zonasi mendatangi rumah siswa baru. Mereka menenteng map berisi formulir pendaftaran. “Awalnya, siswa yang rumahnya di Dusun Pocangan Timur, Desa Pocangan, Kecamatan Sukowono, ini sekolahnya masuk wilayah Dinas Pendidikan Bondowoso. Untuk PPDB ini, mereka ingin kembali sekolah yang masuk wilayah Dinas Pendidikan Jember,” ungkap Hadi.
Selain itu, sekolah pinggiran lain seperti SMPN 3 Puger hingga hari terakhir jalur zonasi ini sudah ada 31 siswa yang mendaftar. Pihak sekolah sebelum PPDB sudah berupaya mendatangi SD yang hanya bersebelahan. “Selain itu, kami juga mendatangi rumah-rumah warga yang mempunyai anak usia masuk SMP. Itu yang kami lakukan untuk bisa mendapatkan siswa baru,” kata Ni’matul Khoiroh, Kepala SMPN 3 Puger.
Terpisah, Kepala SMPN 2 Tempurejo Anang Sulistiyono menjelaskan, siswa yang mendaftar di sekolahnya belum memenuhi pagu yang ditetapkan. Hingga hari ketiga atau terakhir, pendaftar PPDB jalur zonasi mencapai 109 dari jumlah pagu 160 siswa. “Lulusan SD negeri yang ada di Desa Sanenrejo juga ada yang mondok. Sebagian ikut orang tuanya kerja ke Bali,” katanya.
Sekolah pinggiran yang kelebihan kuota siswa juga ada. Seperti di SMPN 1 Balung. Hingga hari terakhir PPDB sudah ada 197 siswa yang masuk bagian entry data. “Sejak hari kedua PPDB jalur zonasi, kami sudah meminta guru agar mengarahkan pendaftaran ke sekolah terdekat lain,” kata M. Rokhiem, Kepala SMPN 1 Balung. (jum/c2/nur) Editor : Safitri