BACA JUGA : Bandara Ngurah Rai Lakukan Pengawasan Potensi Flu Burung
Tak hanya itu, kemudahan menyelesaikan tugas akhir tanpa harus membuat karya sendiri menjadikan NA semangat untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Dia pun kuliah S-2 dan tesisnya juga selesai dikerjakan oleh jasa joki.
NA mengaku, dirinya rela membayar jasa joki, berapa pun biayanya, asalkan lulus dan memperoleh ijazah S-1 dan S-2. Dia berpikir, mengerjakan tugas sendiri akan menghabiskan banyak waktu dan itu tak disukainya. Alhasil, NA kini menyandang gelar S-2. “Saya rela membayar berapa pun, asal skripsi atau tesis saya jadi dan lulus,” bebernya.
Perempuan itu pun mengungkap tarif joki skripsi. Untuk menyelesaikan skripsi bab satu dan bab dua, harga masing-masing Rp 500 ribu. Sementara, untuk analitis dalam skripsi, dia merogoh kocek sampai Rp 750 ribu. Selanjutnya, untuk bab tiga dihargai sebesar Rp 1 juta. Itu tanpa kuesioner. Apabila menggunakan kuesioner, maka harganya sebesar Rp 1,5 juta.
Kemudian, untuk skripsi bab empat, harganya sebesar Rp 1,5 juta. Sedangkan untuk bab lima rata-rata Rp 500 ribu. Jika diharuskan dengan jurnal, maka satu jurnal senilai Rp 500 ribu, tidak termasuk cek plagiarisme karya. “Kalau full atau terima jadi, membayar sebesar Rp 7 juta. Tergantung tingkat kesulitannya,” tegasnya kepada Jawa Pos Radar Jember.
NA menjelaskan, dia memakai joki skripsi dan tesis karena tidak mau ribet dengan pembuatannya. Saat bimbingan hingga sidang pun tidak dicurigai. “Saya lulus dan tidak dicurigai kalau saya pakai jasa joki skripsi,” katanya.
Cerita perempuan itu bisa saja terjadi di sejumlah tempat. Apabila skripsi cukup dibeli dari pedagang, lantas bagaimana dunia pendidikan tinggi saat ini? (mg4/c2/nur) Editor : Safitri