BACA JUGA : Waspada Cuaca Ekstrem, Kandangkan Perahu demi Keselamatan
Di usianya yang ke-36 tahun, kondisi sekolahnya mengalami ambruk cukup parah karena bencana alam, tiga bulan lalu. Para siswa termasuk guru harus berpindah belajar ke halaman sekolah. Menggunakan atap tenda dan terpal. Situasi ini seolah menjadi tantangan bagi Uswatun Hasanah agar tidak berhenti peduli meski fasilitas berkurang. Selain berpikir keras demi masa depan siswa, dia juga harus bersabar dengan terpaan panas dan hujan.
Dia menceritakan, ada kebiasaan siswa yang cukup menguras tenaganya. Sebab, selama proses KBM berlangsung di halaman, para siswa dengan mudah keluyuran. Mereka diam-diam keluar dari kelas untuk bermain. Ada juga yang beli camilan di luar pagar sekolah saat pembelajaran sedang berlangsung. “Jadi, mereka menunggu tidak terlihat oleh gurunya, lalu menghilang. Ada yang bermain, beli-beli, dan keluyuran di sekitar sekolah. Padahal gurunya ada di kelas,” katanya.
Karenanya, hampir setiap hari pekerjaan Uswatun Hasanah bukan hanya mengajarkan materi pelajaran saja. Namun, dia harus mencari siswa yang sengaja kabur dari kelas. Dia telah menganggap 175 siswa itu sebagai anaknya sendiri. “Jangankan ditinggal kelasnya, saat saya di dalam kelas saja, mereka sudah ada yang hilang. Bahkan separuh barisan belakang itu sudah tidak ada. Jadi, saya cari dulu. Lalu, saya perintahkan untuk masuk lagi,” imbuhnya.
Di sisi lain, Uswatun Hasanah merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk mendidik mereka. Alasan itu yang membuat dirinya terus bersabar membina mereka. Terkadang, dia juga harus merangkap mengajar di beberapa kelas ketika ada guru yang sedang cuti. “Kadang mengajar banyak kelas dalam satu hari, karena ada guru yang sedang cuti,” terangnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Selain itu, dia juga harus membuat steril aktivitas pembelajaran yang berlangsung di halaman sekolah. Sebab, siswanya kerap mengeluh kepanasan saat matahari sudah mulai agak tinggi. “Ketika mereka sudah mengeluh kepanasan, saya ajak mereka bernyanyi, atau saya coba hibur mereka dengan cara lain,” tandasnya.
Situasi itu lebih parah lagi saat hujan mulai turun. Dia harus segera memulangkan siswanya, karena halaman sekolah akan segera tergenang air. “Saat mulai mendung, kami segera pulangkan mereka, karena sudah tidak mungkin dilangsungkan pembelajaran,” pungkasnya. (c2/nur) Editor : Safitri