BACA JUGA : Antisipasi Arus Balik Beberapa Hari ke Depan
Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan (Dispendik) Jember Endang Sulistyowati mengutarakan bahwa sejauh ini lembaga SD telah mengimplementasikan sistem pembelajaran yang berbasis Kurikulum Merdeka. Seperti halnya terdapat diferensiasi pembelajaran, sehingga setiap anak yang memiliki kemampuan berbeda bisa terfasilitasi. Namun, tujuan ataupun output-nya tetap sama. "Kurikulum Merdeka sejauh ini positif. Tidak hanya bagi sekolah, namun juga bagi para siswa. Anak-anak jadi lebih leluasa terhadap bakat dan kemampuan yang mereka miliki," tuturnya.
Selain itu, juga telah banyak hasil produk sebagai wujud pencapaian dari implementasi Kurikulum Merdeka. Mulai dari produk penunjang pembelajaran, hingga produk berprilaku ataupun karakter siswa. Kondisi tersebut membuat hampir 100 persen SD di Jember mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Berdasarkan data pada tahun ajaran 2022/2023, dari 1.046 sekolah, terdapat 929 lembaga yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka. "Sehingga hanya tersisa 117 sekolah yang belum mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, dan itu bukan karena masalah kesiapan. Namun, mereka belum memiliki SK terkait implementasi Kurikulum Merdeka," jelasnya.
Pada periode tahun ajaran baru di 2023 ini, Dispendik Jember memiliki agenda untuk menguatkan Kurikulum Merdeka di setiap sekolah yang telah menerapkannya. Meski begitu, dirinya mengungkapkan bahwa Kurikulum Merdeka itu bersifat fleksibel. Sebab, tidak memaksa setiap sekolah untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka pada jenjang pendidikan. Namun, diharapkan sekolah mampu membaca situasi dan kondisi pendidikan era sekarang. “Zamannya sudah digital, dan Kurikulum Merdeka itu membawa ke sana,” pungkasnya. (ben/c2/dwi) Editor : Safitri