BACA JUGA : Jember Juara 1 Paritrana Award Jawa Timur
Semuanya berawal dari ide dua pemuda asal Kelurahan Sumbersari itu yang sudah lama memikirkan inovasi pada bangunan tahan gempa. Terutama untuk bangunan pencakar langit yang terdiri atas beberapa lantai. Bisa dikatakan, dua pemuda itu memang menyukai dunia teknik sipil. Hal itu terlihat dari program studi yang mereka tempuh di Universitas Jember (Unej). Misalnya, Moch. Farhan Nanda Saputra yang kerap mengumpulkan ide dari referensi buku bangunan.
Dari beberapa buku yang dikonsumsi oleh Farhan, dia menemukan sebuah kesimpulan tentang bangunan tahan gempa. Meski sempat ragu, Farhan mencoba untuk mengonsultasikan temuannya kepada dosen akrabnya. Bahkan juga kepada kakak tingkatnya. Karena ketekunannya, tak jarang dia diberikan buku oleh dosennya. Dia terus mendalami tentang bangunan tahan gempa. “Apabila terkait dengan ide, ini murni dari kami berdua. Lalu, dikonsultasikan, kami ajukan kepada dosen kami,” katanya.
Farhan menceritakan, karena temuannya itu termasuk baru, dia bersama temannya mengikutkan karyanya tersebut pada kompetisi yang diadakan tahunan oleh Kemendikbud RI. Bagi keduanya, ajang kompetisi itu menjadi sesuatu yang baru juga. Namun, hal itu tidak menggoyahkan semangat untuk berlomba mempertunjukkan gagasannya. “Kami ingin memberikan kemenangan kepada teknik sipil lagi, setelah 10 tahun lebih tidak pernah memegang juara,” imbuhnya.
Farhan memaparkan, meskipun perancangan bangunan dan alatnya menyesuaikan dengan ketentuan lomba, namun dia telah mempersiapkan rancangan kontraksi yang tahan gempa tersebut sejak dari Jember. Dia menjelaskan, bangunan itu berupa replika atau miniatur bangunan. Namun, hal itu juga bisa direalisasikan di dunia nyata.
Sementara itu, material utama bangunan yang dipakai adalah baja karbon, seperti baja pada umumnya, namun lebih ringan. “Saat di arena perlombaan, bangunan karya kami itu diuji, bagaimana bangunan yang dirancang itu bisa tahan gempa melalui getaran yang sudah disesuaikan,” terangnya.
Sementara itu, profil dalam bangunan berbentuk huruf H dan I. Menurutnya, dua bentuk itu yang dijadikan sebagai kolom dan struktur utamanya pada bangunan berlantai delapan tersebut. Setelah itu, dikombinasikan dengan siku baja berbentuk L. Siku L tersebut digunakan sebagai balok. Cara demikian merupakan inovasi baru yang diterapkan. Tujuannya memperkuat bangunan dan meringankan bangunan. “Sehingga bangunan kokoh dan ringan itu dapat menahan gempa dengan cukup kuat,” tandasnya.
Farhan menuturkan, bangunan tahan gempa hasil karyanya itu mempunyai luasan tiap lantainya 7 sentimeter. Sementara, untuk kolomnya sudah ditentukan oleh penyelenggara. Salah satu inovasi paling utama dari bangunan tahan gempa itu adalah sistem penyambungan kolom yang dibuat dengan ketinggian berbeda-beda pada setiap peletakan kolom. “Jadi, semisal kolom satu kami pakai 7 sentimeter, maka sebelahnya pakai 14 sentimeter. Jadi, tidak menggunakan ukuran yang sama dalam tiap lantainya. Kolom itu dalam bangunan umumnya disebut pilar,” paparnya.
Tanpa disadari, konsep itu menjadi pembeda dengan karya yang lain. Pasalnya, seluruh karya bangunan tahan gempa tetap menggunakan kolom pada lantai yang sama. Farhan menjelaskan, tujuan dari selang-seling kolom tersebut, berdasarkan analisis bangunan sebelumnya, saat menggunakan sambungan kolom dalam lantai yang sama, hasil simpangan yang terjadi ketika diberi beban gempa lebih besar daripada tiang yang dipasang secara selang-seling dalam penyambungannya. “Karena itu lebih kecil, maka kami memakai konsep tersebut,” jelasnya.
Sementara itu, Gian Ewaldo Madjid menambahkan, beban masing-masing lantai juga telah ditentukan, yakni satu kilogram per lantai. Saat itu, bangunan miliknya diguncang menggunakan mesin getar dengan kekuatan 1,5 hrs sampai 5,5 hrs. Dengan simpangan setiap arahnya adalah 1 sentimeter. Hal itu seolah terjadi beban gempa yang nyata. “Pas waktu dicoba, bangunan kami masih kokoh. Sampai simpangan paling besar pun tidak ada elemen yang jatuh. Tidak ada satu pun ornamen yang sampai lepas. Dan juga strukturnya juga masih kuat,” jelasnya saat ditemui di rumahnya.
Gian juga mengungkapkan, karena bangunannya tetap kokoh saat diuji, hal itu menjadi salah satu alasan bangunannya meraih juara 3 tingkat nasional. Dia juga menyebut, estimasi perakitan menghabiskan waktu 161 menit. Sementara, beratnya hanya 4,4 kilogram. Hal itu juga menjadi penilaian penting bagi juri lomba. “Ada berbagai penilaian dalam tahapan. Mulai dari rancangan awal, berat gedung, dan ketahanan bangunan. Sementara, bangunan kami paling ringan di antara para finalis yang lolos,” ujarnya.
Dia juga menjelaskan, fondasi yang digunakan pada bangunan tersebut menggunakan angkur yang ditanam pada fondasi. “Ketentuan fondasinya memang pakai tripleks, dengan ketentuan ketebalan 1,2 sentimeter. Di tripleks itu sudah ditanamkan juga pelat kotak, ukuran 3,5 ditanamkan dari bawah dan bautnya itu ditanam dari bawah. Hampir sama dengan pemasangan pada aslinya,” tegas mahasiswa semester 7 Prodi Teknik Sipil Universitas Jember tersebut.
Menurutnya, bangunan itu telah melalui uji gambar di aplikasi. Mulai dari penggunaan materialnya, gaya-gaya yang muncul dalam bangunan tersebut, dan yang lainnya. Lebih lanjut, bangunan tersebut juga telah dilakukan analisis. Seperti bangunan itu difungsikan untuk apa, beban matinya, dan beban hidupnya berapa saat dipakai. “Nanti di dalamnya ada apa aja, jadi itu yang bakal menentukan desain rumah,” tuturnya.
Sementara itu, hasil bangunan yang dirancang tersebut diperuntukkan apartemen dengan delapan lantai. Perancangan itu dapat direalisasikan ke dunia nyata, namun beberapa bahan perlu disesuaikan ulang. Misalnya, bata ringan, dan ada beberapa bagian yang harus menggunakan material tertentu. “Misalnya lift harus ditempelkan pada dinding geser, supaya dapat menahan gempa,” imbuhnya.
Dia berharap konsep rancangan gedung tersebut dapat direalisasikan segera di dunia nyata. Menurutnya, sejauh ini belum ada solusi bangunan tahan gempa, khususnya bangunan yang berlantai. “Karena Indonesia rawan gempa, bisa melanjutkan rancangan ini dari konsep ornamen yang berbeda,” pungkasnya. (c2/nur) Editor : Safitri