BACA JUGA : Dua Buronan Interpol di Indonesia Masih Dicari
Guru yang mendampingi mereka saat itu, Pratita Ayu Inawati, mengungkapkan bahwa hal tersebut dilakukannya karena keresahannya terhadap perilaku anak muda yang memprihatinkan. Selain itu, maraknya kasus perundungan atau bullying membuatnya berpikir keras untuk menanamkan karakter-karakter baik kepada para siswanya. Tita, sapaan akrabnya, memilih mengajak para siswanya membuat jurnal kebaikan. Di dalam jurnal kebaikan itu masing-masing siswa menuliskan nama dan kebaikan yang diterima dari temannya.
“Jadi, sekecil apa pun kebaikannya agar dituliskan pada jurnal tersebut. Seperti ‘terima kasih Andi telah membantu mengerjakan tugas’. Bahkan ada yang menuliskan terima kasih telah membantu mendengarkan masalah keluarga yang saya alami,” jelas perempuan alumnus ITS Surabaya itu.
Dia melanjutkan, menuliskan kebaikan yang diterima dari temannya bermanfaat untuk melatih para siswa agar lebih mengutamakan melihat kebaikan daripada keburukan seseorang. Serta menumbuhkan rasa empati, peduli, dan saling membantu terhadap teman serta orang-orang di sekitarnya. Sebab, dirinya merasa bahwa tidak hanya para siswa, orang dewasa pun terkadang hanya mencari-cari kekurangan dari orang lain.
Padahal sebenarnya banyak kebaikan yang telah diterima dari orang tersebut. Perilaku mencari-cari atau melihat kekurangan orang akan memicu terjadinya perundungan bahkan perkelahian.
Selain itu, jurnal kebaikan itu membantu untuk melatih para siswa mengungkapkan rasa terima kasih atas bantuan yang telah diterima. Apalagi tidak sedikit orang yang terkadang berat untuk mengungkapkan terima kasih. “Sehingga anak-anak ini terlatih dan ringan untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada orang lain,” tuturnya.
Kegiatan menulis jurnal kebaikan itu mendapat tanggapan positif dari para siswa. Satu di antaranya adalah Sevadiana. Siswa kelas X itu mengungkapkan, dengan adanya jurnal kebaikan, dirinya baru menyadari bahwa mencari kebaikan dari orang lain lebih sulit dibandingkan mencari kesalahan atau keburukan. “Sehingga dengan kondisi itu membuat saya jadi lebih menghargai kebaikan yang diberikan. Sekecil apa pun itu,” ungkapnya.
Harapan Tita, jurnal kebaikan itu akan memiliki kesan positif bagi para siswa di sekolah. Serta dapat ditularkan ataupun dapat dijadikan inspirasi di sekolah-sekolah lain. Agar dapat menekan karakter buruk para siswa akibat pergaulan maupun kemajuan teknologi yang tidak baik. (c2) Editor : Safitri