BACA JUGA : Sudah Bayar Uang Sewa, Warung Makan di Papuma Tetap Wajib Pajak 10 persen
Kanit Pembinaan dan Ketertiban Sosial (Bintibsos) Binmas Polres Jember Aiptu Juliyadi dalam materinya mengatakan, perundungan adalah tindakan penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Dalam paparannya, Juliyadi mengatakan, perundungan yang marak terjadi di lingkungan sekolah didasari oleh banyak hal. Satu di antaranya adalah tergabungnya remaja ke dalam kelompok-kelompok seperti kelompok perguruan silat. Hal ini yang menurutnya dapat menjadi awal mula perundungan terjadi di sekolah.
Saat berkunjung ke sekolah-sekolah, lanjutnya, tak sedikit alasan siswa ikut perguruan silat untuk keamanan. “Jadi, saat ditanyakan, tujuan mereka (siswa yang tergabung di perguruan silat, Red), banyak yang menjawab, kalau ada apa-apa di luar, misalkan dikeroyok, bisa dibantu," ungkapnya.
Sayangnya, ketika telah tergabung ke dalam perguruan, muncul arogansi dan rasa ingin selalu menang. Hal tersebut yang menurutnya keliru dan membuat perundungan mudah terjadi di sekolah-sekolah. Karena itu, perlu menjadi perhatian semua pihak agar siswa tidak memiliki tujuan tersebut ketika bergabung di perguruan silat.
Juliyadi menyarankan kepada guru BK dan pihak sekolah agar dapat mendata siswa yang tergabung di perguruan silat. Data yang dimiliki itu nantinya bisa menjadi identifikasi awal apabila terjadi perundungan. Selain itu, dapat mengarahkan siswa yang tergabung di perguruan ke hal-hal positif seperti prestasi. "Jangan dilarang, tetapi beri pengertian agar mereka dapat mencetak prestasi. Sehingga mudah untuk menjaga anak-anak," imbuhnya.
Juliyadi melanjutkan, perundungan juga dapat disebabkan pengaruh media sosial. Selain itu, obat-obatan serta miras yang sering kali ditemui olehnya. "Ada juga karena awalnya itu saling ejek, bercanda. Tapi, salah satu pihak ada yang tersinggung dan menyebabkan bertengkar. Itu juga bahaya," tambahnya.
Satbinmas Polres Jember yang diwakili oleh Juliyadi di acara pertemuan tersebut turut menyampaikan, akan ada penjadwalan kunjungan ke sekolah-sekolah di Jember, termasuk SMK. Tujuannya memberikan pembinaan dan arahan agar perundungan bahkan hingga menyebabkan hilangnya nyawa tidak terjadi lagi. "Rencana ke depannya, setiap hari Senin, ada lima sekolah atau lebih, dari Polres Jember menyampaikan pembinaan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua MGBK Suyitno menyampaikan bahwa kegiatan itu diharapkan menjadi titik awal dalam mewujudkan sekolah ramah anak yang bersih dari bullying. Dia melanjutkan, dengan kondisi saat ini menjadi hal utama untuk mewujudkan sekolah ramah anak. Sehingga anak di sekolah dapat belajar dengan nyaman, menciptakan prestasi, dan mengembangkan bakat serta kemampuan yang dimilikinya. "Kegiatan ini wujud perhatian kami untuk memberikan ruang yang nyaman di sekolah. Agar para siswa dapat menyalurkan hal-hal positif yang dimilikinya. Di samping itu, memberikan rasa ketenangan kepada orang tua ketika anaknya di sekolah," ungkapnya.
Menurutnya, untuk menciptakan lingkungan sekolah ramah anak yang bersih dari bullying dan kekerasan, tidak dapat dilakukan oleh guru atau pihak sekolah saja. Melainkan perlu keterlibatan dari semua pihak, termasuk orang tua. Agar tujuan sekolah ramah anak dapat segera terwujud. (mg2/c2/dwi)
Editor : Safitri