“Sejak awal telah kami sampaikan pemberitahuan agar pelaksanaan P2MB kepada mahasiswa baru ini tanpa perpeloncoan dan kekerasan, baik fisik maupun psikis,” tegasnya dalam konferensi pers di Gedung Rektorat Unej, kemarin (20/9).
Adanya laporan yang masuk terkait kasus dugaan perpeloncoan di FT Unej, menurutnya, mendapat perhatian dari pimpinan Unej. Kemudian, dibentuk tim investigasi mulai 19 September. Ini terdiri atas beberapa unsur seperti LP3M, Satuan Pengawasan Internal (SPI), tim hukum, wakil dekan fakultas lain, dan Pokja Kemahasiswaan.
“Kami membentuk tim investigasi agar tim tersebut betul-betul bisa mendapatkan fakta dan informasi yang faktual. Dan betul-betul objektif serta berimbang. Paling lambat satu minggu kami akan mendapatkan hasilnya,” ungkapnya.
Slamin turut menegaskan, tim investigasi akan bekerja secara objektif dan independen. Serta akan menggali informasi terkait dugaan pelanggaran ospek BEM Fakultas Teknik Unej. Apabila nantinya memang ditemukan oleh tim investigasi adanya pelanggaran dalam pelaksanaan P2MB, maka pihak yang terlibat akan diberi sanksi sesuai peraturan dan ketentuan yang berlaku.
“Kalau memang benar ditemukan pelanggaran, sanksi yang diberikan mulai dari teguran keras. Kemudian pencopotan dari kepengurusan ormawa. Dan yang paling berat sekali bisa kepada pembekuan ormawanya,” jelasnya.
Selain itu, dengan mulai bekerjanya tim investigasi, maka kegiatan ospek di Fakultas Teknik dihentikan untuk sementara waktu. Terkait kelanjutan ospek akan diputuskan setelah tim investigasi menemukan fakta-fakta yang terjadi selama ospek. (mg2/c2/nur) Editor : Safitri