Sebagaimana diketahui, PIP adalah bantuan berupa uang tunai, perluasan akses, dan kesempatan belajar dari pemerintah. Bantuan tersebut diberikan kepada peserta didik dan mahasiswa yang berasal dari keluarga miskin atau rentan miskin. Tujuannya untuk membiayai pendidikan melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kemendikbud Ristek.
Salah satu pelajar SMAN 1 Arjasa yang menjadi sumber Jawa Pos Radar Jember, mengaku, dirinya tercatat sebagai penerima bantuan PIP. Total dana yang akan diterimanya sejumlah Rp 1 juta. Namun, dia beserta penerima PIP lainnya yang berjumlah 428 siswa, diberitahu oleh kepala sekolah jika dana tersebut tidak dapat diterima oleh siswa.
BACA JUGA: Gedungnya Ambruk, Dua Tahun Siswa SMPN di Jember Belajar di Kelas Darurat
“Jadi, hari Selasa (6/9) itu, kami (penerima PIP, Red) dikumpulkan. Katanya, PIP saya itu bukan PIP reguler tapi PIP aspirasi, sehingga tidak bisa diterima semua uangnya. Dan katanya, uang Rp 1 juta itu harus masuk ke sekolah,” jelasnya, Rabu (7/9).
Pengakuan serupa juga disampaikan pelajar yang lain. Menurutnya, duit Rp 1 juta bantuan PIP itu, semuanya tidak diberikan kepada siswa. Perinciannya, Rp 600 ribu dipotong pihak sekolah untuk membayar sumbangan tahunan. Sedangkan sisanya, Rp 400 ribu, diambil sekolah dengan alasan bakal disalurkan kepada pelajar lain yang tidak mendapatkan bantuan PIP.
“Kan, ada sumbangan tahunan Rp 1,2 juta. Dan saya belum membayar. Jadi, kata kepala sekolah, uang dari PIP tersebut yang Rp 600 ribu langsung dipotong untuk membayar sumbangan. Intinya, saya tidak menerima apa-apa dari PIP,” ungkapnya. Dia menambahkan, sumbangan tahunan itu untuk perbaikan sarana di sekolah. Seperti genting, selokan, mengecat lapangan sekolah dan membayar wifi.
Salah satu wali murid yang sebelumnya mengikuti pertemuan dengan pihak sekolah, menuturkan, pada pertemuan tersebut wali murid juga diberitahu bahwa PIP yang menjadi hak siswa dananya tidak diberikan sama sekali. Karena langsung dipakai membayar sumbangan tahunan, serta disalurkan kepada siswa lain yang tidak mendapatkan PIP.
“Iya, di pertemuan tersebut dijelaskan kalau tidak akan menerima dana PIP. Wali murid banyak yang keberatan, termasuk saya. Tapi tetap saja diputuskan seperti itu. Alasannya, masih banyak yang belum membayar sumbangan tahunan,” tuturnya.
Jawa Pos Radar Jember berupaya mendapatkan konfirmasi dari pihak sekolah. Namun saat ditemui di tempat kerjanya, Kepala SMAN 1 Arjasa Widi Wasito tidak berada di sekolah. Menurut Aryono, resepsionis di SMAN 1 Arjasa, pimpinannya itu sedang keluar menghadiri Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS). “Pak Widi (Kepsek, Red) tidak ada di sekolah. Sedang ada kegiatan MKKS di luar,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Jember Lumajang Mahrus Syamsul, tidak bisa mengomentari lebih jauh perihal rencana pemotongan bantuan PIP tersebut. Dia beralasan, masih akan menelusuri dulu informasi itu ke SMAN 1 Arjasa. “Saya belum bisa mengomentari. Akan saya tanyakan terlebih dulu kepada kepala sekolah yang bersangkutan,” ungkapnya, melalui sambungan telepon. (*)
Reporter: Beni Bayu Sanjaya
Foto : Beni Bayu Sanjaya
Editor : Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal