Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Berawal dari Diskusi di Warkop, Kini Sudah Menulis Dua Buku

Safitri • Rabu, 7 September 2022 | 19:46 WIB
IDE CERMELANG: Irwan Hidayat, penulis muda yang mampu menulis sebuah buku dari hasil mendengarkan curahan hati rekan-rekannya. Lalu, disandingkan dengan beberapa teori yang ada.
IDE CERMELANG: Irwan Hidayat, penulis muda yang mampu menulis sebuah buku dari hasil mendengarkan curahan hati rekan-rekannya. Lalu, disandingkan dengan beberapa teori yang ada.
JEMBER, RADAREMBER.ID - Dia memang tampak berbeda dengan pemuda pada umumnya. Di usianya yang masih 26 tahun itu dia mempunyai kebiasaan mendengarkan curahan hati setiap orang yang sedang banyak masalah. Mulai dari masalah yang sifatnya penting, sampai masalah tidak penting sama sekali. Bahkan, tidak sedikit rekannya memilih bercerita kepada Irwan agar mendapatkan solusi.

BACA JUGA : Rincian Kenaikan Tarif Ojek Online per Zona Wilayah

Hampir setiap hari, Irwan tidak pernah absen nongkrong di warung kopi, dengan lawan bicara yang berbeda-beda. Seperti biasa, dengan lagak, dia memasang telinga besar untuk mendengar curahan hati lawan bicaranya. Menjadi pendengar cerita orang yang sedang bermasalah, bagi Irwan telah membantu meringankan beban hidup dari temannya.

Uniknya, setiap temuan yang dianggapnya baru, tidak lupa dicatat dalam lembaran kertas putih yang selalu hadir di saku kecil kemeja Irwan. Dia mencoba memahami hiruk-pikuk hidup ini, melalui ratusan cerita dari teman-temannya.

Perlahan, catatan itu dia rangkai menjadi susunan tulisan yang rapi. Siapa sangka, kumpulan kalimat pendek itu kemudian berubah menjadi buku karya tulis ilmiah, dengan judul Amanah untuk Kesejahteraan Masyarakat.

"Saya hanya mencoba saja, yakni menyusun rapi setiap dari pengalaman teman saya. Setelah itu, saya coba kaitkan dengan teori sosial. Ternyata unik juga untuk diangkat jadi karya tulis ilmiah, karena faktanya benar-benar ada," katanya.

Buku itu dengan mudah diterbitkan oleh penerbit. Mungkin, karena melihat isinya yang begitu natural, yang berisi hiruk-pikuk kehidupan di zaman modern ini.

"Meski pesimistis, waktu itu saya coba ajukan ke penerbit. Tidak lama setelah pengajuan, tiba-tiba ada informasi bahwa buku saya sudah mulai digarap untuk diterbitkan. Mendengar itu, rasanya sangat bahagia sekali," imbuhnya.

Setelah buku pertama terbit, Irwan mulai mengemban julukan baru. Oleh teman temannya dia dipanggil "Nur Cholis Madjid Kecil". Karena caranya mengangkat sebuah masalah menjadi karya ilmiah dinilai menyamai ilmuwan asal Jombang itu.

"Teman-teman saya bilang begitu, tapi saya biasa saja, ini semua juga berkat mereka yang mau menjadikan saya sebagai teman cerita. Pada intinya, saya juga berterima kasih kepada semua pihak yang sudah menginspirasi saya," jelas pemuda kelahiran 1995 tersebut.

Tak berhenti itu, seusai viral dengan karya pertama, Irwan mulai semakin rajin mengamati kehidupan di lingkungannya. Tidak lupa, jika terdapat temuan baru, sudah pasti masuk dalam catatannya. Sehingga, di tahun yang sama, Irwan mulai melancarkan tulisannya dengan memunculkan karya tulis ilmiah keduanya. Kali ini, dia berangkat dari kondisi suatu masyarakat yang harus bertahan hidup di tengah minimnya peradaban kota.

"Buku kedua judulnya Potret Kemandirian Desa. Itu saya angkat dari perjuangan masyarakat untuk survive menjalani hidup di pedalaman," terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Irwan yang awalnya hanya menjadi pendengar setia, kini telah menjadi penulis buku ilmiah. Dia berhasil memanfaatkan situasi yang ada sebaik-baiknya. Mungkin tidak pernah terpikirkan oleh orang lain, namun Irwan diam-diam meniti karir dengan menjadi pendengar setia di warung kopi.

"Alhamdulillah, sejak saat itu saya suka sekali menulis. Bahkan kalau tidak berjumpa masalah yang menarik, rasanya jenuh hidup ini, dan alhamdulillah juga, sekarang lagi garap buku yang ketiga," pungkasnya. (c2/bud)

  Editor : Safitri
#Jember #penulis