Empat siswa kelas IX belajar di ruang guru yang disekat dengan papan tenis meja. Sementara siswa kelas VIII yang jumlahnya ada empat anak dan kelas VII dengan enam siswa, belajar di ruang kelas yang sama dan hanya disekat menggunakan triplek.
Siswa terpaksa KBM di kelas darurat setelah tiga ruang kelasnya ambruk akibat banjir bandang pada 2020 lalu. “Namun hingga sekarang tiga ruang kelas yang ambruk tersebut belum ada tanda-tanda untuk diperbaiki,” ujar Syaifudin, Kepala SMPN 5 Silo, Selasa (6/9).
BACA JUGA: Tak Tega Lepas Anaknya, Orang Tua di Jember Ikut “Belajar” di Sekolah
Meski belajar di kelas yang tersekat, namun siswa terlihat nyaman. Mereka cukup antusias ketika menyimak pelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Rata-rata, mereka yang sekolah di SMP tersebut merupakan anak-anak karyawan perkebunan.
"Kalau dilihat ruang yang ditempati siswa, ya tidak layak. Karena kondisinya begini dan tidak ada ruang kelas lagi, maka satu-satunya jalan terpaksa belajar di ruang kelas darurat," tutur Syaifuddin.
Menurutnya, dari dua ruang kelas yang ada awalnya digunakan untuk ruang guru dan ruang kepala sekolah. Namun, setelah bencana itu terjadi, ruangan itu disekat menjadi dua untuk dijadikan ruang belajar bagi siswa kelas IX yang jumlahnya ada empat anak.
Sementara kamar mandi, mereka menumpang di SD yang lokasinya persis di depan sekolah dan masih satu kompleks. Sedangkan satu ruang guru yang rusak difungsikan sebagai gudang. “Kami berharap agar tiga ruang kelas yang ambruk akibat bencana dua tahun lalu ada perbaikan,” ucap Syaifuddin. (*) Editor : Maulana Ijal