AY Pemalsu Data Mengaku Pakai NIK Ahmad Sejak SMK untuk Daftar Beasiswa

Safitri • Dipublikasikan Jumat, 2 September 2022 | 16:42 WIB
ilustrasi (jawapos)
ilustrasi (jawapos)
SUMBERSARI, Radar Jember – Benang kusut kasus pemakaian nomor induk kependudukan (NIK) yang menjadi sorotan banyak pihak semakin terurai. Akar masalahnya juga semakin jelas. NIK milik Ahmad Sam’ani dipakai AY sejak duduk di bangku kelas 2 SMK yang ada di Jember. Secara khusus, AY menyampaikan permintaan maaf kepada korban, dan keluarga Ahmad memaafkan dengan tulus, kemarin (1/9).

BACA JUGA : Jaringan Berkecepatan 100 Gbps, Indonesia Bekerjasama dengan Jepang

Kepada Jawa Pos Radar Jember, AY mengaku NIK milik Ahmad dipakai untuk mengajukan beasiswa karena NIK miliknya tertolak oleh sistem. “Saya memohon maaf kepada Ahmad Sam’ani karena sudah menggunakan NIK-nya untuk mendapatkan beasiswa KIP di tempat saya kuliah,” terangnya.

AY menjelaskan, NIK milik Ahmad sudah dipakai sejak dirinya duduk di bangku SMK, sekitar empat tahun yang lalu. Penggunaan NIK Ahmad dilakukan oleh operator sekolah SMK. “Saya memasukkan NIK tersebut berdasarkan data yang saya dapat dari operator sekolah saya dulu di Rambipuji. NIK tersebut diberikan sekolah untuk saya mendapatkan bantuan PIP sejak kelas 2 SMA,” tuturnya.

Dikatakan, dirinya tidak mengetahui bahwa ia mendapatkan beasiswa tersebut karena menggunakan NIK milik Ahmad. Dia mengaku hanya melakukan apa yang sekolah perintahkan. “Saat sekolah, saya tidak tahu bahwa saya mendapatkan bantuan beasiswa itu sudah menggunakan NIK-nya Ahmad Sam’ani, karena operator sekolah yang memasukkan datanya,” jelasnya.

Perempuan yang tinggal di satu kecamatan dengan Ahmad di Sukorambi itu menyebut, dirinya baru mengetahui saat akan masuk kuliah dan mengajukan beasiswa KIP. “Saya baru mengetahui saat saya akan masuk kuliah untuk bisa mendapatkan KIP. Setelah saya tidak bisa mengajukan KIP menggunakan NIK saya sendiri,” jelasnya.

Mahasiswi itu pun menyebut, pada tahun 2020, saat mengajukan beasiswa, pihak kampus tempat dirinya kuliah sudah berupaya membantu mengubah NIK pada yang asli, agar tidak menggunakan NIK milik Ahmad. Akan tetapi, saat itu belum sampai terselesaikan. “Kampus tempat saya kuliah sudah mencoba membantu mengusulkan untuk mengubah NIK sesuai punya saya sendiri. Namun, tidak ada jawaban dari Kemendikbud,” jelasnya.

Dikonfirmasi terpisah, kepala SMK tempat AY sekolah menjelaskan, pihaknya telah memberikan sesuai dengan data masing-masing siswa. Saat dikonfirmasi melalui telepon sekitar pukul 20.30 kemarin, kepala SMK itu tidak menjelaskan lebih jauh.

Sementara itu, Kamis (1/9) kemarin, AY bersama orang tuanya juga menyatakan telah datang menemui Ahmad untuk meminta maaf atas insiden yang telah terjadi. Hal itu disampaikan Azizatul Maulidah, kakak Ahmad. Menurutnya, AY dan keluarganya menyesal karena beberapa tahun terakhir telah menggunakan NIK milik Ahmad. "Saat AY dan keluarganya datang, mereka sangat-sangat menyesal dengan kejadian ini," jelas Aziza.

Aziza menyatakan jika pihaknya telah memaafkan AY. "Atas niatan baik dari AY dan keluarganya ini untuk menemui kami langsung, itu merupakan iktikad baik pertanda mereka benar-benar ikut terpukul atas kejadian ini. Kami tulus telah memaafkan AY," tuturnya.

Sementara itu, pegawai di Kemendikbud, hingga berita ini ditulis kemarin, masih dalam koordinasi setelah menelpon Ahmad. Kini, semua pihak menunggu solusi terbaik sehingga Ahmad bisa mendapatkan haknya dan kasus serupa tidak terulang lagi di Kabupaten Jember. (mg3/c2/nur) Editor : Safitri
Jember Beasiswa NIK