Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sekolah Nonformal PKBM Rumpun Aksara, Tampung Mereka yang Putus Sekolah

Safitri • Selasa, 30 Agustus 2022 | 19:18 WIB
SEDERHANA: Pengajar yang mengajar peserta didik di sekolah nonformal PKBM Rumpun Aksara.
SEDERHANA: Pengajar yang mengajar peserta didik di sekolah nonformal PKBM Rumpun Aksara.
PANTI, Radar Jember - Kehadiran sekolah nonformal di Jember bisa menjadi salah satu cara untuk mengentaskan warga putus sekolah. Putus sekolah dapat disebabkan banyak hal. Satu di antaranya dapat disebabkan oleh kondisi ekonomi.

BACA JUGA : Wisata Dira Beach Cafe Kencong, Serasa Ngopi di Pantai

Oleh karena itu, kehadiran sekolah nonformal menjadi penting untuk membantu warga melanjutkan pendidikan yang sebelumnya putus. Sekolah nonformal tersebut satu di antaranya adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Rumpun Aksara di Kecamatan Panti.

Menurut pendiri sekaligus penanggung jawab bidang keaksaraan PKBM Rumpun Aksara, Haryanto, per Agustus kemarin telah memiliki total peserta didik sebanyak 334. Terbagi ke dalam dua program, yakni kesetaraan sebanyak 214 peserta didik, dan keaksaraan sebanyak 118 peserta didik. "Dari jumlah total siswa tersebut, kira-kira yang telah lulus program kesetaraan hingga tingkat SMA sebanyak 170-an peserta didik," terangnya.

Peserta didik yang ada di sekolah miliknya saat ini didominasi oleh anak-anak. Anak-anak tersebut sebelumnya telah bersekolah di pendidikan formal. Akan tetapi, mereka keluar karena alasan perilaku yang tidak sesuai ketentuan sekolah. Ada juga karena di-bully oleh teman-teman di sekolah sebelumnya. "Awal-awal berdirinya sekolah ini kebanyakan untuk sekadar memiliki ijazah. Namun, saat ini trennya lebih kepada anak-anak yang putus sekolah dari sekolah formal,” terangnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, terlihat keberagaman peserta didik. Baik anak muda maupun orang dewasa bersekolah di sekolah nonformal tersebut. Para peserta didik juga terlihat sangat antusias untuk mengikuti setiap materi yang diajarkan oleh pengajar.

Tak hanya itu, sekolah tersebut juga memiliki sekitar 30 peserta didik disabilitas. Salah satunya adalah Susi, 40 tahun. Dirinya mengaku sangat terbantu dengan adanya sekolah nonformal itu. Susi yang sudah memiliki tiga orang anak tersebut memilih bersekolah kembali karena kondisi keluarga yang serba keterbatasan sebelumnya. Hal itu membuatnya harus menerima keadaan hanya mampu bersekolah hingga jenjang sekolah dasar. "Sekarang saya lanjut sekolah SMP. Karena saya juga punya mimpi dan cita-cita untuk berkuliah setelah ini,” paparnya. (mg2/c2/dwi)

  Editor : Safitri
#Jember #Sekolah