Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Ayu Puja Pangestu, Putri Guru Honorer yang Terus Berjuang

Safitri • Senin, 29 Agustus 2022 | 20:12 WIB
PRESTASI: Ayu Puja Pangestu, mahasiswa dari keluarga kurang mampu, terus berjuang menuntaskan kuliahnya di UIN KHAS Jember.
PRESTASI: Ayu Puja Pangestu, mahasiswa dari keluarga kurang mampu, terus berjuang menuntaskan kuliahnya di UIN KHAS Jember.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Perempuan asal Sumberbaru tersebut sempat berbangga ketika mendengar Pemkab Jember akan memberikan beasiswa untuk warga Jember yang kurang mampu. Pikirnya, program tersebut akan mengangkat motivasi generasi muda di desanya untuk melanjutkan pendidikan, tanpa khawatir biaya kuliah.

BACA JUGA : Penerima Ganda Hingga Pemalsu NIK, Beasiswa Pemkab Jember Harus Selektif

Situasi itu juga dialaminya. Dia pun melayakkan diri sebagai penerima beasiswa dari Pemkab Jember, melalui prosedur pendaftaran yang ditentukan, karena keluarganya kurang mampu. Namun, alam berkata lain. Saat pengumuman beasiswa dipaparkan, nama Ayu Puja Pangestu tidak tercantum. Entah apa yang menjadi kekeliruan. Padahal teman sepantarannya yang keluarganya lebih mampu secara ekonomi dapat beasiswa.

Bagi Ayu, tidak terdaftar sebagai penerima beasiswa tak lantas mengendurkan semangatnya untuk mencari ilmu. Dia yang sedang menempuh pendidikan di UIN KHAS Jember harus menjalani perjuangan yang berbeda dengan mereka yang menerima beasiswa. "Kalau yang lain pakai motor, ya saya jalan kaki. Kalau mereka bisa beli laptop buat mengerjakan tugas, ya saya nyewa atau pinjam teman dulu," terang perempuan semester lima tersebut.

Selama kuliah, Ayu hidup dari keringat sang ayah yang berprofesi sebagai guru honorer pada salah satu sekolah swasta di Jember. Jika dikalkulasi, gaji dari hasil mengajarnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pendidikan Ayu. Pola hidup yang diterapkan tentu harus berbeda pula dengan mereka yang sudah mapan. "Gaji ayah saya per bulannya hanya Rp 800 ribu dari mengajar, sebab ayah saya bukan PNS. Ayah saya honorer" imbuh Ayu, perempuan penuh semangat tersebut.

Sementara itu, kebutuhan Ayu untuk biaya kuliah sangat besar. Selama di UIN KHAS Jember, di jurusan yang ditempuhnya ia membutuhkan sekitar Rp 2.7 juta per semester. Kemudian, untuk biaya hidup sekitar Rp 1 juta per bulan. "Itu pun sudah sangat irit sekali, dengan kos-kosan yang sederhana, dan memilih tempat makan yang murah meriah. Tak jarang juga saya masak sendiri," terangnya.

Hal itu belum terhitung biaya operasional setiap harinya. Di era perkembangan zaman saat ini, Ayu tetap memilih untuk berjalan kaki untuk kuliah, dengan jarak kurang lebih satu kilometer dari tempat kos ke kampus. "Apalagi ada kegiatan di luar kampus, saya biasanya naik lin atau kendaraan online," tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Kondisi seperti itu tak membuat semangatnya kendur. Keinginannya yang kuat untuk mencari ilmu dia torehkan dengan nilai yang memuaskan. Setiap akhir semester, nilai IPK Ayu selalu berada di atas rata-rata. "Saya juga belajar dari luar kampus, melalui organisasi. IPK terakhir saya 3.68," beber perempuan kelahiran tahun 2002 tersebut.

Saat ini, Ayu masih mengharapkan uluran tangan dari Pemkab Jember. Minimal dapat meringankan kebutuhan biaya kuliahnya. Sebab, menjelang semester akhir ini, kebutuhan operasionalnya semakin bertambah. "Saya pingin sekali dapat beasiswa. Minimal bisa meringankan beban orang tua, karena selama kuliah belum pernah dapat beasiswa," pungkasnya. (c2/nur) Editor : Safitri
#Jember