Baca Juga : Jalan Arah Wisata SJ88 Akan Diaspal
Ponpes ini memang dikenal menyimpan segudang sejarah sebelum kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945. Ketika rakyat pribumi saat itu berada di bawah cengkraman Hindia Belanda. Bahkan, Kiai Syukri yang merupakan pendiri pesantren pernah dipenjara oleh tentara Belanda lantaran melaksanakan salat Jumat tanpa izin.
Bersamaan dengan itu, para santri mulai melaksanakan aksi perlawanannya. Siang mengaji, malam bergerilya. Itu menjadi jargon santri Raudlatul Ulum kala itu. Kiai Syukri saat itu kemudian bebas karena mengobati putri orang penting.
Menurut KH Misbah Umar, Pengasuh Utama Ponpes Raudlatul Ulum, Kiai Syukri dibebaskan setelah menyembuhkan putri Bupati Jember. “Anaknya bupati dulu sakit parah. Beberapa dokter tidak mampu mengobati. Berkat doa dari kakek saya, tidak lama kemudian putrinya sembuh, akhirnya dia dibebaskan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember.
Hal ini yang membuat pemerintahan saat itu menjamin kelangsungan Ponpes Raudlatul Ulum. Sejak saat itu, Kiai Syukri dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan lancar dan pendidikan berjalan sampai sekarang ini. “Belanda saat itu juga menjamin keamanan pesantren tersebut. Berkat karomah-nya, hubungan pesantren dengan pemerintah kala itu terjalin baik,” jelasnya.
Tak ayal, ponpes tersebut menyimpan banyak barang antik hadiah dari pemerintahan saat itu. Salah satunya jam kuno yang terpampang di masjid pesantren. “Jam itu sudah berusia 100 tahun lebih” ucap Kiai Misbah.
Sementara itu, di atas bukit kecil di tengah-tengah pesantren terdapat musala kecil yang merupakan tempat pertapaan Kiai Syukri. Bangunan tersebut menjadi simbol kealimannya. “Sekarang tidak ada yang boleh menaiki bukit itu. Dan, setiap malam Jumat Manis, ada santri yang diutus untuk membersihkan tempat itu,” imbuhnya.
Kiai Misbah menambahkan, kondisi pesantren pada awal berdirinya sangat sederhana. Tanah pesantren berasal dari wakaf warga sekitar. Bangunannya masih gedek dan santri belajar di musala kecil. Sepeninggal Kiai Syukri, Ponpes Raudlatul Ulum dilanjutkan Kiai Muhammad Umar, menantunya. Setelah itu, Kiai Khotib Umar, putra sekaligus cucu Kiai Syukri. Dan selanjutnya diasuh oleh Kiai Misbah sampai sekarang. “Abah saya, Kiai Muhammad Umar, merupakan pengasuh terlama di pesantren ini,” pungkasnya.
Jurnalis : mg4
Fotografer : mg4
Redaktur : Nur Hariri Editor : Safitri