Hal ini dilakukan, karena sejak akhir Desember 2019 lalu, tiga ruang kelas, satu ruang guru dan ruang kepala sekolah dibongkar. Pembongkaran tersebut karena bangunan sudah tidak layak ditempati. Jika dipaksakan, justru berbahaya sebab bisa ambruk atau menyebabkan petaka.
Jumlah siswa yang sekolah di SD ini memang cukup sedikit. Mulai kelas 1 hingga kelas 6 jumlahnya hanya 28 anak. Mereka belajar menyebar dan terbagi ke dalam tiap kelas. Masing-masing ada yang menempati teras rumah, ada juga yang menggunakan garasi mobil.
Misalnya, siswa kelas 6 yang jumlahnya ada delapan anak, mereka mengikuti KBM di teras rumah warga persis di belakang bangunan SDN Jamintoro 03. “Bangunan ini dibongkar akhir Desember 2019 oleh Muspika Sumberbaru,” kata Dimyati, Kepala SDN Jamintoro 03, Kamis (14/10).
Kondisi sekolah yang semacam ini membuat warga prihatin. Setelah dibongkar hampir dua tahun lalu sebelum masa pandemi, siswa sempat belajar di tenda darurat. Hingga kemudian, ada warga yang menyilakan teras rumah dan garasi mobilya dijadikan tempat belajar. “Garasi mobil itu diubah menjadi tempat kegiatan belajar. Sehingga anak-anak masih bisa mengikuti pembelajaran dari gurunya,” tutur Dimyati.
Dia pun berharap, pemerintah melalui dinas pendidikan segera membangun ruang kelas yang sudah dibongkar ini. “Karena bangunan sekolah yang rusak juga berpengaruh pada penerimaan siswa baru,” pungkasnya. (*)
Reporter: Jumai
Fotografer: Jumai
Editor: Mahrus Sholih Editor : Ivona