Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UIJ Dimas Arfanda mengatakan, pembaruan buku terakhir hanya dilakukan pada 2017 lalu. Jumlah buku di perpustakaan dinilainya tak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang setiap tahunnya terus bertambah. Sebelumnya, pihaknya juga telah melakukan audiensi dengan rektorat. Dan hasil audiensi tersebut menjanjikan bakal segera merealisasikan tuntutan mahasiswa.
"Kami sebelumnya sudah mengadakan audiensi dengan pihak rektorat dan karyawan perpustakaan. Namun, sampai hampir 10 bulan tidak ada realisasi. Maka dari itu, kami kembali menuntut agar rektorat menepati janji. Kami deadline harus terealisasi sampai akhir bulan ini," katanya.
Menurutnya, pihak yayasan menyediakan anggaran dana hanya Rp 10 juta kepada rektorat untuk kebutuhan perpustakaan. Itu pun anggaran dibuat hanya untuk sementara atau jangka pendek. "Kalau secara keseluruhan, jelas itu kurang untuk menanggung semua kebutuhan perpustakaan. Dari tahun 2017, berapa jumlah mahasiswa UIJ. Dan sudah jelas banyak uang yang masuk dari situ," ujarnya.
Aksi tersebut hanya ditemui oleh wakil rektor. Sebab, Rektor UIJ Abdul Hadi tidak hadir karena sakit. Mahasiswa pun semakin kesal dan sempat menggeruduk pintu rektorat.
Koordinator lapangan, Abdul Muiz, menjelaskan, pihaknya memaklumi alasan dari sang rektor. Namun, setidaknya tuntutan yang ia lakukan hari ini mendapat respons yang jelas dan sesuai dengan kepentingan mahasiswa. "Ini kepentingan bersama mahasiswa. Seharusnya semua ikut andil mengawal permasalahan ini. Kami juga ingin ada tanggapan dari rektorat dan semoga tuntutan kami dipenuhi. Karena kasihan mahasiswa yang membutuhkan buku. Entah itu untuk keperluan riset atau yang lainnya," pungkasnya.
Reporter : Delfi Nihayah
Fotografer : -
Editor : Mahrus Sholih Editor : Ivona