Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Lesbumi Mengulas Napak Tilas Pemikiran Kiai Haji Achmad Siddiq

Radar Digital • Selasa, 29 Juni 2021 | 04:59 WIB
Photo
Photo
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Jember menggelar pangkalan budaya, Sabtu 26 Juni 2021. Agenda ini adalah kali kedua digelar.

Momentumnya adalah semangat bulan Pancasila. Topik diskusi yang diangkat yakni, mendaras jejak-jejak atau kiprah KH Achmad Siddiq dalam diskursus agama dan negara, khususnya Pancasila.

Pemantik dalam diskusi tersebut berasal dari tokoh-tokoh berpengaruh di Jember. Seperti Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA. (Guru Besar UIN KHAS Jember), kemudian Dr. Akhmad Taufiq, M.Pd. (Wakil Ketua PCNU Jember dan Ketua PP ADP IKA-PMII), serta Nizar (moderator).

BACA JUGA : Bupati Jember Salurkan 30 Ton Beras untuk Wilayah Zona Merah

Fandrik, Bendahara Lesbumi Jember mengatakan, kegiatan ini merupakan momentum mengenang dan membedah pemikiran tokoh kebanggaan nasional yang asli atau lahir dari tlatah bumi Jember.

"Sudah sepatutnya sebagai warga Jember bangga dan menghargai mutiara-mutiara pemikiran beliau dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Fandrik yang juga Cerpenis Nasional itu.

Sementara itu, Prof Halim Soebahar mengakui, bahwa KH Achmad Siddiq tak hanya religius, namun juga arif dan nasionalis. Baginya, Kiai Achmad Siddiq adalah sosok arsitek dalam rancangan NU yang kembali ke Khittah 1926, dengan menuliskan Khittah Nahdliyyah.

Di dalam naskah itu menjelaskan risalah penting memahami Khittah NU, serta penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi, dengan menyusun deklarasi hubungan Pancasila dengan Islam pada tahun 1983-1984.

"Beliau adalah tokoh nasional dari kalangan NU, yang mampu 'melerai' ketegangan hubungan antara agama dan Pancasila pada masa 1980-an, tepatnya pada Munas 1983 dan Muktamar NU 1984 di Situbondo," katanya dalam siaran pada salah satu radio di Jember itu.

Dia melanjutkan, penerimaan asas tunggal Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang disampaikan Kiai Achmad Siddiq mengilhami sepenuhnya bagaimana cara berideologi dan menempatkan ideologi secara semestinya.

Namun, pada saat itu, masih ada saja yang beranggapan bahwa menerima Pancasila sebagai asas tunggal berarti melemparkan iman. Sementara menerima asas tunggal Pancasila berarti kafir. Sedang kalau menerima keduanya berarti musyrik. Hal itu ditegaskan oleh Kiai Achmad Siddiq sebagai cara berpikir yang keliru.

"Oleh karena itu, seyogyanya kita warga Jember selalu memperingati sosok Kiai Achmad Siddiq, khususnya pada bulan Pancasila, lebih-lebih generasi muda seperti Lesbumi ini yang masih peduli akan sejarah pemikiran dan perjuangan beliau. Jangan lupa juga, mari kita viralkan di media sosial tentang tokoh-tokoh nasional dari Jember,” pungkasnya.

Selanjutnya, Wakil PCNU Jember Akhmad Taufik mengatakan, penerimaan asas tunggal Pancasila, tentu akan memberikan implikasi ideologis pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karenanya, sebagai satu konstruksi ideologis yang dibutuhkan oleh bangsa dan negara, diskusi tentang kebangsaan atau Pancasila yang digelar oleh Lesbumi tersebut dapat membekali masyarakat, khususnya generasi muda di Kabupaten Jember.

"Semoga agenda ini dapat memberi manfaat bagi kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara. Tadarus Pancasila sebagai bentuk tadarus ideologi perlu dikumandangkan terus untuk generasi saat ini dan generasi mendatang, tanpa henti,” pungkasnya.

Perlu diketahui, Prof Halim sendiri, sempat nyantri selama 10 tahun di pesantren Kiai Achmad Siddiq

 

 

Reporter: Delfi Nihayah
Fotografer: Lesbumi for Radar Jember
Redaktur: Sholikhul Huda Editor : Radar Digital
#Jember #UIN KHAS Jember