Kasus Dugaan Keracunan MBG di Jember Sasar 28 Anak, Satgas Warning SPPG: Jangan Sembrono!

Maulana RJ • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 18:27 WIB
Korban yang diduga keracunan makanan usai menyantap menu MBG, yang disediakan oleh salah satu SPPG, di Dusun Jatiagung, Desa/Kecamatan Gumukmas, Jember, Selasa, 22 September 2026. (Dok. Kiriman Warga)
Korban yang diduga keracunan makanan usai menyantap menu MBG, yang disediakan oleh salah satu SPPG, di Dusun Jatiagung, Desa/Kecamatan Gumukmas, Jember, Selasa, 22 September 2026. (Dok. Kiriman Warga)

GUMUKMAS, Radar Jember - Puluhan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Dusun Jatiagung, Desa/Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, dilaporkan mengalami gejala dugaan keracunan setelah mengonsumsi menu makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa, 22 September 2026, waktu setempat. 

Para korban yang merupakan siswa sekolah ini langsung dilarikan ke Puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan medis darurat akibat gejala mual, pusing, atau gangguan pencernaan.

Petugas kesehatan dan pihak berwenang terkait di Jember bergerak cepat melakukan penanganan medis bagi para korban serta penyelidikan lapangan untuk memeriksa sampel makanan guna memastikan penyebab pasti gangguan kesehatan ini.

Baca Juga: Dan Terjadi Lagi: 28 Anak di Jember Diduga Keracunan Usai Menyantap Menu MBG

Ketua Satgas MBG sekaligus Pj. Sekda Kabupaten Jember, Achmad Imam Fauzi, mengkonfirmasi kabar tak sedap ini. "Satgas sudah turun lewat Dinkes, sudah dilakukan uji laboratorium sample makanan. Dan korban ditangani oleh Puskesmas setempat," kata Fauzi, saat dikonfirmasi, Selasa (22/9). 

Fauzi menyatakan pemerintah daerah tak tinggal diam. Menurut dia, hasil resmi dari uji lab ini akan menjadi bahan Satgas untuk diteruskan kepada otoritas tertinggi yakni Badan Gizi Nasional atau BGN. "Nanti akan diumumkan secara resmi hasil uji labnya. Satgas akan menindaklanjuti kasus tersebut ke BGN setelah hasil uji lab keluar," katanya.

Fauzi menegaskan bahwa sebagaimana arahan dari Bupati Jember Muhammad Fawait, prioritas penanganan juga tetap mengedepankan keselamatan para korban. "Sesuai arahan gus bupati, penyelamatan korban harus diprioritaskan terlebih dahulu. Dan ini sudah ditindaklanjuti secara teknis oleh Dinkes lewat Puskesmas setempat, katanya.

Kasus dugaan keracunan MBG di Jember ini  bukanlah barang baru. Sebelumnya, kasus serupa juga pernah terjadi di berbagai titik. Bahkan masih segar di ingatan, 7 September kemarin, BGN sempat membekukan 46 dapur MBG di Jember. Meski telah beroperasi berbulan-bulan dengan memproduksi puluhan ribu porsi makanan per harinya, 46 dapur MBG itu rupanya kompak berjama'ah menunggak izin Sertifikat Laik Higiene Sanitasi atau SLHS. 

Baca Juga: BGN Bekukan 46 Dapur MBG di Jember setelah Sekian Lama Nunggak Izin Tapi Beroperasi

Fauzi juga mengirimkan peringatan keras kepada para pengelola dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jember agar tidak sembrono dalam menjalankan salah satu program prioritas nasional ini.

Meski pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan memberhentikan operasional dapur MBG yang diketahui jadi biang kerok keracunan, ia menyatakan pemerintah daerah dapat merekomendasikan pemutusan kontrak kepada petinggi BGN di pusat. 

"Kami minta semua SPPG atau dapur MBG lebih berhati-hati. Jangan asal bikin perut anak-anak kita kenyang, ini ada urusan nyawa. Kami pastikan pemerintah daerah tidak akan tinggal diam," pungkas ASN yang juga Kepala Bapenda Jember itu, memberi seruan.

Editor : Maulana RJ
Makan Bergizi Gratis (MBG) Jember Badan Gizi Nasional (BGN) Satgas MBG keracunan mbg