KALIWATES, Radar Jember - Bupati Jember Muhammad Fawait kembali menginjakan kakinya di Pasar Tanjung, pasar tradisional terbesar di pusat Kota Jember, pada Rabu siang, (16/9) waktu setempat. Kedatangan dia kali ini merupakan kunjungan ke-empat kalinya sejak ia resmi menjabat sebagai orang nomor satu di kota berpenduduk 2,6 juta jiwa ini.
Dalam inspeksi mendadak (sidak) tersebut, Bupati Fawait menyusuri sudut-sudut bangunan pasar, berdialog langsung dengan para pedagang yang melapak, hingga menggelar audiensi untuk menyerap aspirasi. Ia menegaskan, kehadirannya tanpa skenario atau rekayasa protokol demi mendengar suara murni pedagang.
"Saya ingin tahu suara langsung dari pedagang, tanpa harus di-setting atau diolah oleh siapa pun," aku sang bupati, di sela-sela inspeksinya.
Gus Fawait, sapaan dia, merinci rekam jejak empat kali kunjungannya ke pasar tersebut. Kunjungan pertama dilakukan sebelum ia resmi beraktivitas di Pendopo Kabupaten untuk merealisasikan janji penurunan retribusi pasar. Kunjungan kedua untuk memantau stabilitas harga bahan pokok bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
Adapun kunjungan ketiga dilakoni bersama Menteri Pekerjaan Umum (PU) guna memuluskan usulan anggaran mega proyek revitalisasi. Menurut dia, langkah melobi pemerintah pusat itu membuahkan hasil. "Alhamdulillah berhasil, kurang lebih membutuhkan anggaran dari APBN Rp 250 miliar," katanya.
Pada kunjungan keempatnya ini, Gus Fawait mengklaim sejumlah program keberpihakan pemerintah daerah telah dinikmati pedagang. Mulai dari pembebasan biaya kesehatan yang ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah daerah, penyediaan beasiswa untuk anak pedagang, hingga pembangunan fasilitas musala di area pasar.
Meski demikian, kondisi riil di lapangan masih menyisakan riak. Dalam dialog tersebut, penataan pedagang dan keberadaan 'pasar liar' di area bawah menjadi sorotan utama. Gus Fawait melempar wacana penataan jam operasional pedagang bawah agar tidak mematikan mata pencaharian pedagang di lantai dua.
"Ini bukan penggusuran, tapi penataan. Yang di atas orang kecil, yang di bawah juga orang kecil, sama-sama ingin mencari makan," tambah mantan anggota DPRD Jatim tersebut.
Di sisi lain, keluhan membentang dari pedagang lantai atas. Katiyem, salah satu pedagang veteran di Pasar Tanjung, menyebut lantai dua kini tak ubahnya pasar mati suri. Pembeli enggan naik ke atas lantaran enggan membayar karcis parkir dan memilih bertransaksi di luar area pasar.
Katiyem juga bersikap skeptis terhadap wacana pengaturan jam buka-tutup pedagang liar yang dilontarkan pemerintah. Menurut dia, kebijakan serupa pernah diterapkan namun hanya bertahan hitungan hari. "Dulu pernah diatur jam buka tutupnya, tapi cuma bertahan satu-dua hari. Enggak sampai sebulan sudah balik lagi. Pembeli tetap tidak mau naik. Jadi kami sebenarnya ingin dibuat adil saja, kaya penataannya itu yang utama," harapnya.
Editor : Maulana RJ