Kontras Dua Wajah Pasar Tanjung Jember yang Kerap Picu Ketegangan antar Pedagang

Maulana RJ • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 19:33 WIB
Tampilan di lantai dua Pasar Tanjung Jember yang cukup terasa sepi dari aktivitas pedagang-pembeli. Bahkan banyak kios-kios pedagang yang ditinggalkan. (Maulana/JPRJ)
Tampilan di lantai dua Pasar Tanjung Jember yang cukup terasa sepi dari aktivitas pedagang-pembeli. Bahkan banyak kios-kios pedagang yang ditinggalkan. (Maulana/JPRJ)

KALIWATES, Radar Jember - Kios-kios berselimut debu di lantai dua Pasar Tanjung masih berdiri sunyi. Titik-titik tumpukan sampah dan aroma tak sedap melapisi setiap sudut lorong yang semakin menyiarkan kesan kumuh dan tak terurus, membuat siapa pun yang melintas di sana ingin segera beranjak. Meski ada denyut aktivitas ekonomi, itupun didominasi oleh aktivitas antar pedagang.

Pemandangan kontras langsung tersaji begitu kaki melangkah ke area bawah. Mulai siang hingga menjelang malam, aktivitas pedagang di lantai dasar justru berdenyut kencang. Puncaknya saban dini hari: deretan pembeli datang silih berganti, sebagian bahkan tak perlu turun dari jok sepeda motor untuk bertransaksi—layaknya layanan drive-thru market modern.

Potret ketimpangan aktivitas di pasar tradisional terbesar se-Kabupaten Jember itu menjadi suguhan, saat Bupati Jember Muhammad Fawait menggelar inspeksi mendadak (sidak), pada Rabu siang, 16 September 2026.

Datang bersama rombongannya, Bupati yang akrab disapa Gus ​Fawait itu menyusuri sudut-sudut bangunan tersebut, berdialog secara acak dengan pedagang di lorong-lorong pasar yang dilaluinya, hingga menggelar audiensi untuk menyerap keluhan mereka yang selama ini terendam. "Saya pengin tahu suara langsung dari pedagang. Tanpa harus diseting, tanpa harus diolah oleh siapa pun," aku sang bupati, di sela-sela inspeksi.

​Ketimpangan aksesibilitas antara lantai dasar dan lantai atas ini rupanya tak sekadar memicu persoalan sepinya pembeli, tetapi juga memicu ketegangan laten antarpedagang. Pembeli enggan naik ke lantai dua lantaran malas mengular di tangga serta enggan mengeluarkan biaya karcis parkir tambahan.

​"Pasar atas ini enggak ada fungsinya sudah. Orang belinya enggak mau naik," sesal Katiyem, salah seorang pedagang yang bertahun-tahun bertahan di lantai atas. "Kalau di bawah kan enggak usah bayar karcis, sepedanya enggak usah dilepas, langsung beli bisa," ketusnya.

Di saat lantai dua Padar Tanjung bak mati suri, kondisi sebaliknya justru tersaji di lantai dasar. Aktivitas jual-beli lebih hidup, bahkan memudahkan pembeli, bisa tanpa turun dari sepeda motor, mirip model drive-thru. (Maulana/JPRJ)
Di saat lantai dua Padar Tanjung bak mati suri, kondisi sebaliknya justru tersaji di lantai dasar. Aktivitas jual-beli lebih hidup, bahkan memudahkan pembeli, bisa tanpa turun dari sepeda motor, mirip model drive-thru. (Maulana/JPRJ)

​Selain isu kebersihan dan penataan jam operasional pedagang di lantai bawah yang dinilai kerap 'mencuri' jam pasar atas, persoalan keamanan yang selama ini jarang tersorot turut mencuat. Lantai dua yang sedikit remang-remang dan sepi kerap menjadi sasaran empuk aksi pencurian. "Banyak yang kemalingan. Kita ikutin aja aturannya nanti dari pemkab, yang penting hak kita juga dipenuhi," seloroh Katiyem, usai melihat bupati beranjak dari lokasi lapaknya.

​Merespon carut-marut itu, Gus Fawait menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memoles kembali Pasar Tanjung tanpa mengorbankan salah satu pihak, baik pedagang di bawah maupun di atas. 

Rencana revitalisasi besar-besaran menggunakan dana APBN sebesar Rp250 miliar disiapkan, disertai formula penataan jam dagang agar pedagang lantai atas dan bawah bisa sama-sama bernapas. ​"Bukan penggusuran, tapi penataan. Supaya sama-sama hidup, yang di atas cari makan, yang di bawah juga cari makan," kata Gus Fawait.

Editor : Maulana RJ
Jember revitalisasi pasar pasar tanjung Pasar Tradisional Gus Fawait