Jangan Terkecoh Iming-iming Gaji Besar, Informasi Peluang Kerja PMI Wajib Jelas dan Transparan

Maulana RJ • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 18:54 WIB
Jangan Terkecoh dengan Iming-iming Gaji Besar, Informasi Peluang Kerja PMI Wajib Jelas dan Transparan
Jangan Terkecoh dengan Iming-iming Gaji Besar, Informasi Peluang Kerja PMI Wajib Jelas dan Transparent 

KALIWATES, Radar Jember - Peluang warga Jember untuk menembus pasar kerja internasional cukup terbuka lebar. Terlebih, sebagai salah satu daerah penyumbang Pekerja Migran Indonesia ( PMI) terbesar di Jawa Timur, Jember menjadi titik krusial dalam pembenahan ekosistem pelatihan kerja.

Pembinaan vokasi sekaligus jaminan transparansi informasi lowongan kerja ke luar negeri, dinilai cukup penting disajikan secara jelas dan transparan kepada calon PMI. Muaranya, dapat melindungi PMI dari risiko penipuan model penempatan ilegal.

Direktur Pembinaan Kelembagaan Vokasi KemenP2MI, Abri Danar Prabawa, menegaskan bahwa masyarakat berhak mendapatkan akses informasi peluang kerja global secara akurat, terstruktur, dan tanpa ada yang disembunyikan.

​"Informasi peluang kerja luar negeri harus disampaikan kepada masyarakat secara luas dan transparan," kata Abri, dalam lawatannya, ke Kantor Disnaker Jember, belum lama ini (13/8).

​Langkah ini diambil untuk memastikan calon PMI dari Jember tak sekadar berangkat, tetapi dibekali keahlian tersertifikasi yang sesuai dengan standar pasar kerja internasional. "Dengan memperkuat lembaga vokasi dan memastikan kompetensi calon PMI, kita tidak hanya melindungi mereka, tetapi juga mengangkat martabat serta daya saing PMI," tambah dia.

Hal serupa juga pernah diutarakan oleh Project Officer Migrant Care Jember, Bambang Teguh Karyanto. Menurut dia, kerancuan informasi mengenai perbedaan antara bekerja secara formal dan magang kerap dimanfaatkan para perekrut nakal untuk mengabaikan hak-hak dasar pekerja.

Apalagi, kata dia, tren dan modus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) kini kian canggih dan beragam, menyasar kelompok usia produktif, disebar di media sosial dengan iming-iming gaji besar.

​"Masyarakat hingga pemangku kebijakan sering terkecoh. Orang tua mengira anaknya berangkat untuk bekerja secara resmi, padahal skemanya magang, yang itu rapuh perlindungan hak dan kepekerjaannya. Karena itu, di tengah kondisi yang lagi darurat perdagangan orang, kita harus punya satu kesepahaman, mitigasi harus terstruktur dan berpihak penuh pada korban," tambah Bambang.

Editor : Maulana RJ
Jember ketenagakerjaan buruh migran tppo pekerja migran Indonesia (PMI)