RAMBIGUNDAM, Radar Jember - Bupati Jember Muhammad Fawait menegaskan komitmennya untuk menghapus disparitas terhadap lembaga pendidikan madrasah serta para gurunya. Ia mengaku memahami keprihatinan yang dialami madrasah swasta dan guru-guru berbasis yayasan di Jember.
"Kadang kita pusing Pak. Bukan pusing kenapa, gemes gak bisa langsung bantu," akunya, di hadapan para guru dan ulama, saat Bunga Desaku di Kantor Desa Rambigundam, Rambipuji, (29/7).
Selama ini, para guru madrasah kerap merasa dianaktirikan, mulai dari sulitnya mengakses program sertifikasi pendidik hingga minimnya alokasi anggaran daerah.
Kesenjangan itu terlihat nyata pada bantuan program revitalisasi gedung sekolah yang selama ini mengucur deras ke sekolah di bawah naungan Diknas.
Sementara madrasah di bawah naungan Kemenag kerap luput dan tak tersentuh bantuan serupa. "Memang kita ada beberapa keterbatasan, karena memang beda kementerian. Tapi kita tidak akan putus asa," kata Gus Fawait.
Sebagai langkah konkret, lanjut dia, Pemkab Jember memplot sejumlah program, di antaranya jaminan penuh kepesertaan BPJS Kesehatan bagi seluruh guru madrasah. Lalu alokasi khusus beasiswa santri dan pelajar madrasah; program seragam gratis bagi siswa baru madrasah.
Gus Fawait juga mengaku telah meminta jajaran Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) memasukkan unsur madrasah dalam setiap perencanaan program daerah. "Tidak usah khawatir, bupati sekarang lulusan madrasah. Karena guru dan siswa madrasah juga warga Jember, mereka punya hak yang sama untuk menikmati APBD Jember," pungkas Gus Fawait.
Editor : Maulana RJ