Radar Jember - Suasana diskusi gayeng dan mengalir tersaji hangat saat Program Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan (Bunga Desaku) di Balai Desa Rambigundam, Kecamatan Rambipuji, Rabu malam (29/6).
Tidak sekadar jadi ajang sapa warga rutin. Bupati Jember Muhammad Fawait benar-benar menjadikan forum itu sebagai panggung dialog tanpa sekat yang memicu hujan aspirasi dari berbagai elemen masyarakat.
Aspirasi meluncur deras mulai dari unsur guru dan kepala madrasah yang mendesak adanya bantuan revitalisasi sekolah, hingga kelompok pemuda dan disabilitas yang vokal meminta kesetaraan akses, penyediaan fasilitas pengolahan sampah modern sampai lapangan olahraga desa.
Tak berhenti di situ, unsur petani juga angkat bicara terkait saluran irigasi mereka yang butuh bantuan.
Sementara itu, jajaran ketua RT/RW dan kader Posyandu, blak-blakan meminta insentif mereka naik, disambung aspirasi guru PAUD yang memperjuangkan kejelasan status kelembagaan agar diakui secara formal.
Mendengar bertubi-tubi curhatan warga, Gus Fawait tak mau menunda waktu.
Memboyong seluruh kabinet Pemkab Jember—mulai dari Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Direktur Rumah Daerah, hingga jajaran Direktur BUMD— ia langsung menyenggol para pejabat terkait di lokasi acara.
Detik itu juga, setiap keluhan diinventarisasi dan langsung diserahkan ke dinas teknis untuk segera dieksekusi.
"Poin utama ya tadi, minimal tidak ada pembatas antara rakyat dengan pemimpinnya," kata Gus Fawait, di sela-sela dialog.
Langkah cepat menyerap aspirasi ini, lanjut dia, menjadi sinyal kuat bahwa Pemkab Jember ingin mengikis birokrasi berbelit.
Lewat Bunga Desaku, ia memastikan setiap masalah warga kini bisa dieksekusi dengan cepat.
"Insyaallah semua kita tampung, semua kita tindaklanjuti, tapi bertahap ya. Tidak bisa minta pagi, sorenya langsung jadi," imbuhnya, diselingi guyon tawa. (mau/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh