Beberapa orang memilih jalan pengabdian di akar rumput dengan motivasi tersendiri. Seperti yang dilakukan Lista Hariana, kader Posyandu berdarah China-Indonesia di Jember.
MAULANA, Karanganyar, Radar Jember
Tiap sudut gang-gang sempit di Dusun Sentong, Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, sudah jadi makanan saban hari bagi Lista. Sambil menenteng fotokopi KK warga, Senin (13/7), ia datang dari pintu ke pintu rumah warga untuk satu tujuan: menanyakan bagaimana kondisi kesehatan lansia yang dikunjunginya.
Bagi warga RT 03 RW 18, sosoknya sudah tidak asing lagi. Warga biasa menyapanya dengan sapaan Cece. Perempuan berdarah Tionghoa bernama lengkap Lista Hariana ini, merupakan salah satu dari puluhan Kader Posyandu Puskesmas Ambulu.
Sejak satu tahun terakhir, Lista sudah bulat memilih jalan yang mungkin jarang dilirik perempuan sebayanya, menjadi kader Posyandu. "Saya keturunan China, mungkin satu-satunya yang jadi kader Posyandu," katanya, diselingi tawa, saat ditanya alasan dan motivasinya menjadi Kader Posyandu.
Jika hanya berburu honorarium, insentif seorang kader posyandu tentu jauh dari kata cukup. Namun bagi Lista, ini bukan soal materi. Ini adalah jalan pengabdian yang ia pilih.
"Sehat ya mbah, makan ndak boleh telat, nanti diperiksa lagi kesehatannya," kata Lista, kepada Ruqiyah, lansia 87 tahun, saat dikunjunginya bersama petugas Puskesmas Ambulu dan ketua RT setempat, di Dusun sentong, Desa Karanganyar, (13/7).
Sebagai warga keturunan China-Indonesia (Cindo), Lista seolah ingin membuktikan bahwa darah Tionghoa yang mengalir di tubuhnya tidak membatasinya dalam kerja-kerja kemanusiaan di akar rumput.
Namanya dedikasi, tidak semua berjalan mulus. "Tantangannya ada, apalagi saya terhitung baru. Kadang masih harus meraba-raba rumah warga dan mengenal karakter warga," akunya, mengenang awal kiprahnya.
Tugas Lista di Pos 47 tidak bisa dibilang enteng. Dari sekitar 70-an Kepala Keluarga (KK) dampingannya, ia berhadapan dengan berbagai karakter warga. Mulai dari memantau ibu hamil berisiko tinggi (resti) usia muda, hingga mendekati warga yang masih berpikiran kolot.
Lista dan bidan desa malah sudah terbiasa jemput bola, door-to-door mengetuk pintu rumah warga yang enggan membawa anaknya ke Posyandu karena tidak percaya imunisasi atau terlanjur fanatik pada bidan praktik mandiri tertentu.
"Pernah dijemput ke rumahnya, karena dasarnya susah. Tapi ada juga yang merasa cocok ke dokter tertentu, jadi tidak mau dikunjungi. Jadi macem-macem karakter warga," selorohnya, mengisahkan pahit manis mengetuk rumah warga.
Di luar aktivitasnya sebagai kader yang memantau urusan timbangan bayi dan tensi lansia, ibu rumah tangga yang telah kepala empat ini juga diketahui Kader Tuberculosis (TB). Sesaat usai mengunjungi Ruqiyah, Lista bergeser ke Desa Kemuningsari Kidul Kecamatan Jenggawah, menemui salah seorang warga penderita TB.
"Cece memang aktif orangnya, sering dia berkegiatan mendampingi pengobatan masyarakat," kata Andrik Eko Seftyo, petugas Puskesmas Ambulu yang turun bareng Lista, saat itu.
Wahyu, anak dari Ruqiyah, mengaku sangat bersyukur ibunya dikunjungi kader dan petugas Puskesmas. Terlebih di tengah kondisi ibunya yang terindikasi mengidap demensia. "Mbah ya kondisinya gini, bicaranya banyak, tapi Alhamdulillah sehat," kata Wahyu.
Kini, tugas Lista dan Eko, beserta kader lainnya, kian melebar dengan adanya program integrasi pelayanan kesehatan. Tidak hanya fokus pada balita, tapi mulai turun tangan mendampingi kesehatan para lansia yang kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.
Kepala Puskesmas Ambulu, Widiarti, sangat mengapresiasi dedikasi yang dicurahkan para kader Posyandu, termasuk oleh Lista, ini. "Sekarang berobat sudah UHC, gratis. Aksesibilitas juga terjangkau, tapi ada kadang warga yang enggan berobat karena tidak ada yang menemani, atau balita yang tidak dibawa ke Posyandu karena suatu faktor," katanya, saat ditemui, (13/7).
Menurut dia, apa yang dilakukan Lista dkk, merupakan ikhtiar mendekatkan pelayanan kesehatan yang humanis, tanpa sekat jarak ataupun biaya. "Jadi, kader Posyandu sudah biasa turun ke rumah-rumah warga, seminggu sekali, jemput bola. Kalau butuh obat, atau dirujuk untuk tindakan khusus, langsung ditangani," tambah Widiarti.
Editor : Maulana RJ