Radar Jember - Bupati Jember Muhammad Fawait membawa misi besar dalam merumuskan cetak biru (blueprint) pendidikan yang adaptif terhadap badai disrupsi digital.
Hal itu tegaskan saat menghadiri Konferensi Pendidikan Indonesia 2026 di Sleman, Yogyakarta, Kamis (2/7).
Dalam konferensi itu, Gus Fawait, sapaan dia, duduk bersama sejumlah tokoh seperti Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) hingga Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri).
Diskusi itu membedah tantangan ruang kelas modern, transformasi pembelajaran berbasis teknologi, hingga penguatan sektor ekonomi kreatif bagi generasi muda.
"Banyak gagasan segar yang saya bawa pulang ke Jember. Forum ini membuka mata kita bahwa tantangan era digital tidak bisa dihadapi dengan metode konvensional," katanya, dalam keterangan resminya, (3/6).
Menurut dia, esensi pendidikan hari ini telah bergeser. Tidak boleh lagi terjebak pada kurikulum yang menuntut siswa menghafal di kelas, tetapi harus melahirkan ekosistem yang merangsang kreativitas dan kemandirian ekonomi.
Oleh-oleh gagasan dari Sleman ini rencananya akan langsung disinergikan dengan Dinas Pendidikan Jember, guna merumuskan program taktis penyiapan SDM Jember menyongsong Indonesia Emas.
"Pendidikan yang baik itu bukan hanya soal belajar di kelas. Ini tentang bagaimana kita menyiapkan generasi Jember agar lebih siap, kreatif, dan punya modal untuk bersaing di masa depan," katanya, optimistis.
Di sela-sela forum nasional itu, ia napak tilas ke Universitas Gadjah Mada (UGM), tempat yang menjadi Kawah Candradimuka menempa kapasitas intelektualnya, sekaligus saksi kisah cintanya bersama sang istri. (mau)
Editor : Imron Hidayatullahh