JAKARTA, Radar Jember - Karpet merah penunjukan jabatan mentereng di perusahaan terafiliasi negara kembali memicu kegaduhan. Kali ini, sorotan tajam mengarah pada PT Krakatau Posco, perusahaan patungan (joint venture) antara BUMN PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan raksasa baja asal Korea Selatan, POSCO. Nama Mufli Budi Ananda, yang karib dikenal publik sebagai asisten pribadi Raffi Ahmad, mendadak nangkring di kursi dewan komisaris.
Kabar ini seketika memantik badai kritik di jagat maya sejak Minggu, 28 Juni 2026. Publik mempertanyakan kapabilitas dan rekam jejak Mufli yang dinilai jauh panggang dari api jika dikaitkan dengan industri manufaktur berat sekelas pabrik baja berkapasitas 3 juta ton per tahun itu.
Berdasarkan penelusuran pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI), latar belakang akademik Mufli tercatat hanya sampai jenjang Diploma III (D3) Teknik Listrik dari Politeknik Bunda Kandung. Ia sempat dua kali mendaftar kuliah S1 Teknik Industri di Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), namun statusnya berakhir mengundurkan diri pada medio 2018–2019.
Alhasil, spekulasi mengenai kongkalikong "jalur orang dalam" alias ordal pun tak terhindarkan. Terlebih, bos tempat Mufli mengabdi—Raffi Ahmad—kini menduduki posisi politik strategis sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni.
Kedekatan inilah yang dicurigai menjadi tiket VIP bagi Mufli untuk melenggang ke Cilegon tanpa perlu mengantongi portofolio mumpuni di sektor metalurgi.
Alih-alih memberikan klarifikasi transparan, PT Krakatau Posco justru kedapatan mengambil langkah defensif. Pada Selasa, 30 Juni 2026, laman resmi perusahaan ketahuan menghapus menu daftar direksi dan komisaris. Penghapusan sepihak ini pertama kali diendus oleh akun X @waskitaadijarto. "Daftar Komisaris Krakatau Posco dihapus dari situs web resminya. Ok, ada yang gerah begini ya," tulis akun tersebut sembari menyematkan tangkapan layar situs yang mendadak ciut menunya.
Aksi bersih-bersih digital ini kian menebalkan kecurigaan publik bahwa ada yang tak beres dalam tata kelola internal perusahaan patungan BUMN tersebut. Sejauh ini, baik manajemen PT Krakatau Posco, Mufli Budi Ananda, maupun pihak Raffi Ahmad, kompak bungkam dan belum memberikan penjelasan resmi terkait polemik penunjukan kilat tersebut maupun hilangnya daftar pengawas dari situs web mereka.
Tata kelola korporasi yang bersih tampaknya sedang diuji oleh kompromi-kompromi politik yang merembet hingga ke lini bisnis vital negara.
Editor : Maulana RJ