Radar Jember - Sektor pertanian di Jember tengah menghadapi tantangan serius berupa minimnya jumlah Penyuluh Pertanian Lapangan atau PPL.
Pasalnya, dari jumlah PPL yang ada saat ini dinilai jauh dari kata ideal untuk mengawal produktivitas pangan daerah.
Bahkan mayoritas para penyuluh harus mengampu lebih dari satu desa sekaligus.
Bupati Jember Muhammad Fawait, mengakui beratnya beban kerja yang dipikul para pendamping petani tersebut di lapangan.
"Kami tahu di lapangan, kerja dari pendamping kita hari ini sangat berat sekali. Bahkan satu PPL bisa menangani beberapa desa, satu sampai dua desa. Ini berat sekali," katanya, saat memberi keterangan terbuka, di Kantor DTPHP Jember, Sabtu (6/6) lalu.
Saat ini, Jember hanya diperkuat oleh 172 orang PPL, yang terdiri dari 66 aparatur sipil negara (ASN) PNS dan sisanya berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Angka ini timpang jika disandingkan dengan total tata wilayah Jember yang mencakup 248 desa dan kelurahan.
Akibatnya, manajemen pendampingan kelompok tani (poktan) menjadi tidak optimal.
Gus Fawait, sapaan dia, berencana menambah SDM PPL ini secara besar-besaran.
"Pemkab Jember insya Allah akan menambah SDM untuk mendampingi poktan. Harapan kami ke depan, bisa mendampingi satu pendamping PPL satu desa, bahkan kalau bisa satu desa lebih dari satu pendamping," katanya.
Kendati tidak bisa cepat, ia memastikan sektor pertanian akan menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah untuk terus dikembangkan.
"Supaya produktivitas petani dan semuanya bisa dikerjakan seoptimal mungkin. Insya Allah Pemkab Jember (merealisasikannya penambahan PPL) di tahun 2027," pungkas Gus Fawait. (mau/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh