Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Prabowo: Gaji Guru Tidak Bisa Naik Karena Uangnya Gak Ada! 

Maulana RJ • Kamis, 25 Juni 2026 | 10:28 WIB
Presiden Prabowo, saat menghadiri Penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026, di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa, 23 Juni 2026. (Dok. Setpres)
Presiden Prabowo, saat menghadiri Penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026, di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa, 23 Juni 2026. (Dok. Setpres)

Radar Jember - Presiden Prabowo Subianto akhirnya blak-blakan mengenai alasan di balik mandeknya kesejahteraan para pendidik di Indonesia. Di hadapan para tokoh dan ulama, Prabowo membongkar borok struktural yang membuat anggaran negara selalu tekor dan berujung pada sulitnya menaikkan gaji guru serta pegawai negeri.

​"Kenapa gaji guru tidak bisa naik? Kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa naik? Kenapa anggaran selalu kurang? Ya karena uangnya enggak ada, diambil terus," ujar Prabowo dengan nada masygul, saat menghadiri Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026, di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan, Jatim, Selasa, (13/6/2026).

​Prabowo menyoroti anomali pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diklaim tumbuh 5 persen saban tahun selama tujuh tahun terakhir. Di atas kertas, Indonesia seharusnya bertambah kaya hingga 35 persen. Namun, realitas di lapangan justru menampar wajah pemerintah: angka kemiskinan meningkat dan kelas menengah justru merosot.

​Mantan Menteri Pertahanan ini secara terbuka mengakui bahwa kue pertumbuhan ekonomi tersebut hanya dinikmati oleh segelintir elite. "Ini berarti sistem kita keliru. Negara tambah kaya, rakyat miskin tambah, kelas menengah berkurang. Sistem ini keliru," cetusnya.

​Ketidakmampuan negara membiayai kesejahteraan guru berakar pada fenomena lawas yang disebut Prabowo sebagai net outflow of national wealth, atau pelarian kekayaan nasional ke luar negeri. Prabowo mengibaratkan kondisi ekonomi Indonesia seperti tubuh manusia yang kehabisan darah akibat luka yang terus mengucur.

​Mengutip data dari United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) PBB yang diolah Dewan Ekonomi Nasional, pelarian modal ini dipicu oleh masifnya praktik lancung penipuan laporan ekspor atau under-invoicing oleh para pengusaha hitam.

​"Para pengusaha itu bohong. Katanya dia jual 1.000 ton, dia lapor hanya 500 ton. Artinya apa? Negara rugi," kata Prabowo mendongkol. Akibat manipulasi laporan ekspor ini, PBB mencatat Indonesia telah menelan kerugian fantastis mencapai 908 miliar dolar AS atau setara Rp15.000 triliun selama 34 tahun terakhir.

​Para ahli yang menyokong pemerintah mengkalkulasi bahwa total kebocoran anggaran negara saat ini mencapai 150 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.500 triliun setiap tahunnya. Angka kebocoran raksasa inilah yang dituding menjadi biang kerok utama mengapa kas negara selalu 'kering' saat berbicara tentang kesejahteraan guru.

​Di akhir pernyataannya, Prabowo menegaskan bahwa dirinya tengah berupaya merombak total sistem yang rusak tersebut demi memenuhi sumpah jabatannya. "Kita merdeka, kita ingin rakyat kita hidup dalam keadilan dan kemakmuran," katanya.

Editor : Maulana RJ
#kebocoran anggaran #APBN #Prabowo Subianto #guru honorer #gaji guru