Radar Jember - Bupati Jember Muhammad Fawait menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan tidak bisa melulu bersandar pada satu pihak ataupun sokongan modal besar.
Menurutnya, jalan keluar paling efektif dari sengkarut sampah justru berada di tangan masyarakat, khususnya komunitas berbasis agama seperti pondok pesantren dan guru ngaji.
Ia ingin mengubah paradigma lama bahwa sampah bukan lagi musuh atau kotoran yang harus dibuang, tetapi potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan pendapatan baru bagi warga.
"Sebenarnya jalan keluar paling efektif adalah melibatkan banyak pihak, termasuk masyarakat, dalam mengelola sampahnya. Dipilah sampahnya antara yang organik dan anorganik," katanya, usai mengukuhkan Forum Komunikasi Pondok Pesantren dan Guru Ngaji, Selasa (16/6).
Dalam strategi hulu ini, Gus Fawait, sapaan dia, berencana melibatkan berbagai elemen masyarakat. Salah satunya pondok pesantren dan guru ngaji.
Menempatkan pesantren dan guru ngaji sebagai panglima sosialisasi. Jember, yang dikenal sebagai salah satu lumbung pesantren terbesar di Jawa Timur, dianggap punya modal sosial yang kuat untuk menggerakkan pemilahan sampah secara masif.
Terlebih, lanjut dia, kultur pesantren sangat adaptif dengan isu kebersihan.
"Di pondok pesantren itu sejak dari dulu telah diajarkan bahwa kebersihan adalah sebagian daripada iman. Sehingga insya Allah tidak akan susah untuk mengajak pondok pesantren untuk mengelola atau penanganan sampah dengan baik," urainya.
Jika gerakan pemilahan ini sukses di tingkat basis, perputaran ekonomi baru akan tercipta. Sampah organik bisa menjadi pupuk atau pakan, sementara anorganik masuk ke rantai industri daur ulang.
"Karena kalau sudah bisa dikelola dengan baik, itu bukan lagi menjadi masalah, malah menjadi pendapatan dan potensi," pungkas Gus Fawait, optimistis. (mau/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh