Radar Jember - Bupati Jember Muhammad Fawait menegaskan komitmennya terhadap pondok pesantren dan guru ngaji.
Ia menyatakan, ke depan tidak boleh ada lagi sekat birokrasi yang menempatkan pesantren sekadar sebagai objek penerima bantuan sosial.
"Kedepan tidak ada pembatas. Kita melibatkan pondok pesantren dan guru ngaji agar para santri bisa mendapatkan hak dan akses yang sama, untuk program-program Pemkab Jember," katanya, usai mengukuhkan Forum Komunikasi Pondok Pesantren dan Forum Komunikasi Guru Ngaji di Pendapa Wahyawibawagraha, Jember, Selasa malam (16/6).
Ia menekankan bahwa intervensi pemerintah daerah tidak boleh lagi bertumpu pada skema bantuan fisik atau operasional pondok semata.
Namun juga menyiapkan pemberdayaan ekonomi dan ketenagakerjaan yang inklusif bagi kaum sarungan. Di sektor ketenagakerjaan, ia mendorong santri bisa berkarir di luar negeri.
Melalui kerja sama Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Pemkab Jember menyiapkan program pelatihan khusus untuk santri menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang kompeten.
"Seperti yang disampaikan Pak Wamen P2MI kemarin, kita pastikan santri yang ingin jadi PMI bisa kita fasilitasi," katanya.
Baca Juga: Perda PMI Masih OTW! Bupati Gus Fawait Targetkan seluruh Desa di Jember Jadi Desa Migran
Selain bursa kerja internasional, Gus Fawait juga membuka keran program bagi santri yang berminat mengembangkan sektor UMKM, jaminan akses kesehatan, hingga peluang beasiswa kuliah.
"Jadi, bukan cuma bantuan kepada pondoknya saja, tetapi juga kepada santrinya (mendapatkan hak dan akses yang sama)," pungkas presiden Laskar Sholawat Nusantara itu. (mau/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh