Radar Jember - Hari Raya Idul Adha selalu memiliki cara tersendiri untuk menguji sejauh mana seorang pemimpin berdiri dekat dengan rakyatnya.
Bagi Bupati Jember Muhammad Fawait, momentum ini tidak dirayakan di balik barisan saf eksklusif pejabat kota, tapi di tanah kelahirannya bareng masyarakat desa.
Suasana itu tersaji khidmat menyelimuti Masjid lingkungan Pondok Pesantren Nurul Chotib, Desa Wringin Agung, Kecamatan Jombang, Jember, Rabu (27/5).
Di pondok pesantren yang diasuhnya itu, ia juga bertindak imam sekaligus khatib salat Idul Adha 1447 H.
Dalam khotbahnya, Gus Fawait, sapaan dia, menekankan bahwa esensi kurban melampaui ritual penyembelihan hewan.
Idul Adha menurutnya adalah manifesto dari keikhlasan tingkat tinggi dan kepekaan sosial yang harus diwujudkan dalam kehidupan berbangsa.
"Kebersamaan dan doa di momen penuh berkah ini menjadi pengingat bahwa Idul Adha bukan hanya tentang kurban, tetapi juga tentang keikhlasan, persaudaraan, dan kepedulian antar sesama," katanya, dalam keterangan resminya.
Seusai sholat, Gus Fawait lantas memilih berbaur dengan santri dan masyarakat sekitar, makan bersama alias kembulan di atas lantai masjid. Pemandangan ini merefleksikan gaya kepemimpinan yang cair.
Ia juga menilai Idul Adha sebagai katalisator untuk memperkuat kembali ikatan sosial di Kabupaten Jember.
"Idul Adha menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan, menumbuhkan kepedulian, dan berbagi keberkahan kepada sesama. Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H. Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin," pungkasnya. (mau/nur)